May 312016
 

Mesin Ekonomi KotaMusim penerimaan calon mahasiswa baru telah tiba. Berdasarkan data calon mahasiswa yang mendaftar pada seleksi nasional mahasiswa perguruan tinggi negeri (SNMPTN) lima tahun terakhir mengalami peningkatan; pada tahun 2010 sebanyak 447.107, tahun 2011 sebanyak 540.928 peserta, tahun 2012 sebanyak 618.804 orang, tahun 2013 sebanyak 765.531, tahun 2014 sebanyak 777.357, dan tahun 2015 sebanyak 852.093 peserta. Angka-angka ini belum termasuk yang mendaftar ke perguruan tinggi swasta yang tersebar di seluruh kabupaten/kota yang memiliki perguruan tinggi. Data ini mengkonfirmasi betapa tingginya animo masyarakat untuk memasukkan putera-puteri mereka mengenyam pendidikan tinggi.

Dari sejumlah calon mahasiswa tersebut, Unsyiah diperkirakan memperoleh sekitar 1-3% pendaftar. Contohnya di tahun 2015 lalu, calon mahasiswa yang mendaftar di Unsyiah melalui SMPTN sebesar 22.871 dari 852.093 peserta nasional. Demikian juga UIN Ar-Ranniry melalui jalur UMPTKIN memperoleh rata-rata jumlah pendaftar yang hampir sama. Disamping perguruan tinggi negeri tersebut, tentu juga diikuti oleh keberadaan perguruan tinggi swasta yang berada di tengah-tengah Kota Banda Aceh dan menjadi perguruan tinggi swasta yang diunggulkan seperti Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), Serambi Mekkah, U’budiyah, dll.

Banda Aceh, sebagai ibu kota provinsi menjadi tempat yang paling favorit bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi, bukan saja dari daerah-daerah di Aceh, tetapi masyarakat luar Aceh juga sudah mulai melirik Banda Aceh sebagai kota destinasi tempat pendidikan mereka. Alasannya sangat simple, biaya pendidikan lebih murah dibandingkan dengan perguruan tinggi lain di luar Aceh, selain itu, nama Aceh menjadi nilai tawar tersendiri bagi masyarakat luar Aceh karena “keunikannya”. Muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji, apakah ada pengaruh keberadaan mahasiswa tersebut terhadap geliat ekonomi kota Banda Aceh? Dan bagaimana upaya yang mungkin dilakukan untuk mengapresiasi keberadaan mahasiswa tersebut, khususnya pemerintah kota Banda Aceh? Tulisan ini mencoba melihat salah satu sisi unik dari mesin ekonomi yang bernama mahasiswa.

Jumlah Mahasiswa

Aceh setidaknya memiliki 11 perguruan tinggi negeri dan 114 perguruan tinggi swasta yang terdaftar di Kopertis wilayah XIII Aceh yang terdiri dari 11 Universitas, 47 Sekolah Tinggi, 53 Akademi, dan 3 Politeknik. Dua PTN dan 46 PTS (40,35%) berada di Kota Banda Aceh, selebihnya tersebar di beberapa kabupaten/ kota di Aceh. Dari sejumalh PTN dan PTS yang berada di Kota Banda Aceh akumulasi jumlah mahasiswa seluruhnya mencapai 60.838 orang, atau 26,62% dari jumlah penduduk Kota Banda Aceh. Data ini baru merupakan data di tahun 2011. Sedangkan jumlah mahasiswa yang mendaftar kuliah ke Banda Aceh dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Bandingkan dengan jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara yang datang ke Banda Aceh dalam setahun, berdasarkan data BPS Kota Banda Aceh, pada tahun 2014 jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara yang berkunjung ke Aceh sebanyak 236.042 pengunjung, jika dirata-rata jumlahnya menjadi 19.670 pengunjung, hanya 32% dari jumlah mahasiswa yang datang dari luar kota Banda Aceh yang diasumsikan 50% dari jumlah mahasiswa keseluruhan.

Penggerak Ekonomi Kota

Jika diasumsikan jumlah mahasiwa di Aceh konstan saja sejak tahun 2011 tersebut, maka jumlah ini merupakan angka yang sangat fantastis. Dan jika diasumsikan 50% dari 60.838 mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang berasal dari daerah luar Kota Banda Aceh, maka dapat disimpulkan bahwa ada sejumlah 30.419 mahasiswa yang menjadi waga “muhajirin” di Kota Banda Aceh. Ini artinya, bahwa seluruh mahasiswa tersebut akan menerima kiriman uang dari masing-masing orang tua/ keluarga mereka di daerah-daerah.

Beberapa mahasiswa yang penulis tanya mengenai jumlah kiriman orang tua mereka, diperoleh interval angka kiriman dari orang tua mereka antara 1 – 2 juta rupiah per mahasiswa, beberapa di antaranya ada yang 3 juta di luar SPP. Dengan mengambil angka rata-rata dari nominal yang kecil saja, 1,5juta perbulan dikalikan dengan jumlah mahasiswa tersebut akan menghasilkan angka sebesar Rp. 45,6 milyar. Orang tua dan keluarga mahasiswa di desa-desa di seluruh Aceh dengan menjual tanah, sawah, hewan ternak, emas perhiasan, hasil tani, kebun dan seluruh sumber ekonomi yang mereka miliki, bahkan dengan berhutang berupaya memperoleh uang untuk dikirimkan ke putera-puteri mereka di Kota Banda Aceh.

Uang-uang yang berada di tangan mahasiswa ini “sangat liquid” dalam pengertian tingkat kecairannya untuk beredar di masyarakat sangat bahkan super cepat karena uang tersebut memang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mahasiswa yang tak dapat ditunda. Berbeda dengan uang gaji PNS yang selama ini menjadi andalan sebagai sumber peredaran uang di masyarakat, harus diakui, gaji PNS harus mengendap karena nyaris seluruh SK PNS telah diagunkan ke bank untuk kebutuhan kredit perumahan dan barang-barang sekunder lainya sehingga setiap tanggal jatuh tempo gajian, otomatis gaji dipotong dan tidak dikirim ke PNS. Uang-uang yang berada di berbagai bank tersebut memiliki durasi yang cukup lama mengendap dan peredarannya tertunda, bahkan memungkinkan beredar di luar wilayah Aceh untuk kepentingan bisnis perbankan.

Ramainya pengunjung warung kopi di Banda Aceh merupakan salah satu fenomena yang muncul dari dampak peredaran uang-uang mahasiswa tersebut, sekaligus dapat menjawab pertanyaan masyarakat selama ini, dimana saat kondisi pertumbuhan ekonomi Aceh yang rendah pada setiap periode, baik triwulanan, maupun year on year, bahkan Aceh menempati urutan paling buruk dan juga paling kecil kontribusinya terhadap pertumbuhan di kawasan regional Sumatera, tetapi kota Banda Aceh tetap terlihat menggeliat, khususnya di kafe-kafe dan kuliner yang pelanggannya kebanyakan dari kalangan mahasiswa. Paling sedikit 45 milyar lebih uang yang dikirim masyarakat desa dari tangan-tangan orang tua mahasiswa ini lah yang berperan sebagai gear menggerakkan roda ekonomi kelas menengah ke bawah di kota Banda Aceh melalui aktifitas 170 kategori Kedai Kopi, 92 Warung Kopi, dan 37 Kafe. Setiap bulan selalu ada jumlah uang yang hampir sama berpindah dari desa-desa di seluruh Aceh menuju  kota Banda Aceh. Saat liburan panjang tiba, warung-warung kopi ini semua kembali sepi, mereka berhibernasi menunggu tombol mesin ekonomi diaktifkan oleh mahasiswa yang datang membawa sejumlah uang.

Peran Pemerintah Kota

Selain sibuk dengan agenda pemerintah yang menggaungkan wisata syariah guna menggenjot peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke kota Banda Aceh, sudah sewajarnya pemerintah kota Banda Aceh memberikan atensi yang lebih terhadap fenomena mesin ekonomi mahasiswa ini. Keberadaan perguruan tinggi di Kota Banda Aceh harus didukung dengan berbagai upaya, berperan aktif meningkatkan kualitas perguruan tinggi melalui kebijakan-kebijakan yang mendorong ke arah tersebut.

Beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya; “Memanjakan” mahasiswa dengan berbagai aktifitas yang difasilitasi pemerintahan merupakan salah satu upaya yang baik, seperti mengadakan kompetisi-kompetisi keilmuan, memfasilitasi pengadaan peralatan dan perlengkapan penunjang bagi mahasiswa yang mampu menunjukkan skill enterpreneurship, dan segala aktifitas yang dapat memotivasi mereka untuk menciptakan suatu aktifitas perekonomian yang mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah kota Banda Aceh. Upaya-upaya ini diharapkan dapat membuat peta alokasi sumber daya manusia yang tidak hanya fokus pada bidang-bidang hukum dan politik yang sebagian besar juga dijadikan sebagai penopang ekonomi rumah tangga.

Masa-masa liburan, apalagi libur panjang, kota Banda Aceh terlihat sepi dari aktifitas perekonomian, selain tidak adanya kegiatan ekonomi dari aktifitas industri, dapat dipastikan mahasiswa luar kota Banda Aceh juga pulang ke kampung mereka, bukan saja mahasiswa, masyarakat yang bukan mahasiswa juga akan pulang ke kampung. Pada saat itu pemerintah dapat mengupayakan gebyar aktifitas secara massif melalui kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi di Kota Banda Aceh dalam bentuk kompetisi yang mengundang sejumlah utusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi diluar Aceh, setiap perguruan tinggi dilibatkan dan diberi peran berbeda. Setiap perguruan tinggi yang diberi peran akan mengundang peserta dari relasi mereka masing-masing dari luar untuk hadir ke Banda Aceh dengan membawa sejumlah uang yang akan beredar selama liburan. Setidaknya, dapat menggantikan peran mahasiswa yang sedang berlibur untuk sementara hingga liburan usai.

Kehadiran wisatawan memang penting, tetapi keberadaan mahasiswa tidak dapat diabaikan karena kontribusi mahasiswa sangat besar dan berdurasi lama. Lima tahun kuliah, seusia dengan periode kepemimpinan dalam pemerintahan.

Tulisan ini telahditerbitkan di opini Serambi Indonesia : Mesin Ekonomi Kota

Baca juga :

Nov 182015
 

PomnasXIVBaru beberapa waktu lalu saya membuat catatan tentang perjalanan saya ke Surabaya dan Malang yang luar biasa. Luar biasa dalam kaitannya dengan dampak ekonomi masyarakat yang disebabkan oleh kehadiran para peserta PIT 7 IDAI dan Kemnas SIT Nusantara plus beberapa negara Asean dengan jumlah total pengunjung dalam satu minggu tersebut mencapai 12ribuan dan menebarkan uang sekira hampir 20milyaran.

Dengan rasa senang kita patut mengapresiasi pihak Unsyiah yang ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olah Raga Mahasiswa Nasional ke 14. Selain dapat dijadikan sebagai ajang mengasah keterampilan atlit-atlit muda yang potensial, hal lain yang menjadi perhatian kita tentu saja karena even ini akan berdampak secara nyata pada ekonomi masyarakat di Banda Aceh.

Menurut data yang disiarkan oleh salah satu radio di Banda Aceh, perhelatan Pomnas XIV di Banda Aceh ini menghadirkan lebih kurang 2.400 peserta dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang hadir, ditambah dengan 280 orang pihak official. Mungkin saja dari sebagian peserta atau official ada yang membawa keluarga mereka ke Banda Aceh. Welcome to Banda Aceh, saya berani katakan bahwa para pengunjung tidak akan kecewa melihat kota Banda Aceh; Bersih, Nyaman dan Aman. Kita berharap warga Banda Aceh mampu menunjukkan sikap ramah untuk mencerminkan bahwa Aceh, setidaknya Kota Banda Aceh dapat menjadi rujukan kota bersih dan ramah terhadap siapapun yang datang dengan harapan para pengunjung bisa menjadi perpanjangan tangan dan penyambung lidah guna mempromosikan Aceh sebagai kota yang layak dan wajib dikunjungi.

Untuk kalkuliasi sederhana perputaran uang di ajang nasional ini, tentu tidak perlu lagi saya uraikan disini, lebih kurang sama dengan catatan saya yang lalu mengenai Ekonomi Aceh vs Jawa Timur. Hanya beda kuantitasnya saja. Untuk upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak agar ajang ini dapat dilaksanakan di Banda Aceh, kita harus ucapkan banyak terimakasih.

Promosi visit Aceh Years selama ini menjadi fokus pemerintah dalam rangka ikut  mendongkrak perekonomian masyarakat dan memancing pihak investor untuk melirik Aceh sbagai salah satu daerah yang menjanjikan bagi investasi mereka. Konon lagi jika pihak pemerintah secara konsisten dapat menjaga situasi Aceh terus aman dan damai, sikap dan perilaku para elit pemerintah dan politisi, serta masyarakat secara umum, dapat dipastikan persepsi masyarakat luar terhadap Aceh akan menjadi sangat positif. Ini akan berdampak sangat besar bagi Aceh secara keseluruhan.

Berkaitan dengan konsistensi dan kesadaran pihak pemerintah dan para akademisi, secara langsung saya mendengar seremonial pembukaan Pomnas XIV ini melalui radio. Mulai dari sambutan panitia, rektor Unsyiah sebagai tuan rumah kampus, gubernur sebagai tuan rumah provinsi, dan juga sambutan Menristek yang tidak ada istimewanya sama sekali. Saya menilai datar dan tidak ada bobot yang mengarahkan pada konsistensi dan kesadaran bersama tentang pentingnya secara berulang-ulang meyakinkan tentang Aceh yang layak dikunjungi. Sambutan-sambutan yang dibawakan Rektor dan Gubernur, sedikitpun tidak menyinggung visi tentang Aceh damai, aman dan nyaman, kalimat-demi kalimat seluruhnya normatif. Bahkan gubernur dan menteri memiliki inti pembicaraan yang sama; mengharapkan muncul atlit-atlit nasional yang handal dan membanggakan negara di mata dunia, hanya itu inti pokoknya, selebihnya setengah pembiacaraan panjang lebar untuk penghormatan kepada sipolan dan sipulin.

Saya menunggu-nunggu, setidaknya seperti pak de Karwo katakan dalam sambutannya pada acara Pertemuan Ilmiah Tahunan di Surabaya. Beliau mampu secara lisan menyampaikan potensi-potensi alam dari seluruh penjuru angin Jawa Timur, ada apa disana, bagaimana cara menempuhnya, dan memberikan jaminan kepada pengunjunga tentang keramahan warga setempat dimanapun kita berada di wilayah hukum Jawa Timur. Semua kalimat-kalimat ini diberi intonasi khusus dengan gaya seloroh dan serius. Saya melihat respon perserta saat itu sungguh berbeda, langsung terdengar bisik-bisik dari peserta mengenai rencana mereka ke tempat-tempat yang disebutkan oleh pak de Karwo. Dia mengenal betul potensi yang ada di wilayahnya, dan tauu persis teknis menuju ke tempat tersebut. Dalam hati saya berguman, pak de Karwo memiliki visi yang besar untuk membangun karena dia tahu dan faham sumber daya alam dan demografi masyarakatnya. Semua ini dimaksudkan untuk ‘merayu’ para peserta agar mau melakukan perjalanan ke tempat-tempat tersebut dan mengharapkan dampak kunjungan tersebut bagi pergerakan ekonomi masayakat setempat.

Dan, itu tidak dilakukan oleh Rektor Unsyiah dan Gubernur Aceh pada sambutannya. Saya beranggapan bahwa membangun daerah tidak cukup dengan janji, tetapi harus mampu memahami benar sumber daya yang dimiliki dan mampu menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana serta dibuktikan dengan tindakan-tindakan yang nyata, sekalipun dalam bentuk perilaku yang kecil melalui ucapan-ucapan yang menggambarkan visi besar seorang pemimpin.

Selamat jalan jalan peserta POMNAS XIV. Sebaiknya luangkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat indah di Aceh…

Baca Juga:

Jan 022015
 

ekpatriatSaat ini banyak kita lihat warga negara asing berkeliaran di kota-kota di seluruh Indonesia. Ekspatriat, demikian umumnya orang menyebut mereka untuk menggambarkan keberadaan warga negara luar yang bekerja dan/atau tinggal di negara lain. Di tengah-tengah pasar global saat ini, pemandangan tersebut bukan lagi suatu yang asing, bahkan dalam kurun waktu yang tidak lama lagi, kita akan terbiasa berinteraksi dengan mereka.

Dalam elemen karakteristik utama KEA, salah satu poinnya adalah Arus bebas lalu lintas tenaga kerja terampil. poin ini menjelaskan bahwa dalam kawasan Asean sebagai konsekuensi deklarasi Komunitas Ekonomi Asean, setiap negara harus memberikan izin terhadap lalu lintas keluar masuk tenaga kerja yang terlibat dalam perdagangan barang, jasa, dan investasi sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara bersangkutan.

Tindakan nyata yang akan dilakukan setiap negara anggota adalah memfasilitasi penerbitan visa dan employment pass bagi tenaga kerja terampil Asean yang bekerja di sektor-sektor yang berhubungan dengan perdagangan dan investasi antar negara Asean. Sedangkan untuk arus bebas perdagangan jasa salah satunya ada kerjasama di antara Asean University Network (AUN) untuk meningkatkan mobilitas mahasiswa dan staff pengajar di negara kawasan.

Selain itu, tindakan yang dilakukan negara anggota dalam mengakomodir arus bebas bidang jasa ini adalah mengembangkan kompetensi dasar dan kualifikasi untuk pekerjaan dan keterampilan pelatihan yang dibutuhkan dalam sektor jasa prioritas.

Dalam rangka meningkatkan keterampilan, penempatan kerja dan pengembangan jejaring informasi pasar tenaga kerja di antara anggota negara-negara Asean, maka akan dilakukakan penguatan terhadap kemampuan riset di setiap negara anggota Asean.

Dengan diberlakukannya konsep arus bebas perdagangan jasa ini akan memompa semangat warga Asean untuk menentukan pilihan tempat bekerja antar negara dalam kawasan, sekaligus memicu negara untuk mendorong warganya meningkatkan keterampilan agar sesuai standar dan diterima pasar dalam kawasan.

Baca juga:

Aliran Bebas Barang di Pasar Tunggal KEA