Sep 032015
 

uangSetiap blok ruko (rumah toko) yang dibangun di kota Banda Aceh, hampir dapat dipastikan, satu atau dua bahkan tiga pintu ruko dalam blok tersebut menjadi warung kopi. Biasanya, rata-rata jumlah blok dalam satu kaplingan ruko tediri dari 5 – 10 pintu. Itu artinya, 25% adalah kafe. hebatnya, setiap kafe-kafe tersebut selalu dipenuhi pengunjung, bahkan ada beberapa kafe yang buka 24 jam. Konon lagi, di saat musim kompetisi bola ; Liga-liga di negara-negara Eropa, Champion, dan piala dunia, maka ini adalah momen-momen dimana kafe menjadi tempat yang paling ramai pengunjungnya.

Banyak yang bertanya-tanya, kenapa kafe-kafe di Banda Aceh tidak pernah sepi, padahal kita tahu bahwa ekonomi Aceh tidaklah kalah buruk dengan daerah-daerah lain yang terseok-seok. Usaha-usaha produktif tidak tumbuh dengan baik, uang riil mengendap di bank-bank dan lembaga keuangan karena mereka sedot dengan iming-iming keuntungan yang berlipat-lipat melalui program ‘kembangbiak’ uang di dunia maya. Uang pemerintah yang banyak itu juga tidak turun ke bawah karena gaji PNS yang mestinya dibayarkan setiap bulan, tetap bertahan di bank karena otomatis dipotong kredit rumah, mobil, motor, dan alat-alat elektronik.

Uang para kontraktor juga tidak cair-cair hingga akhir tahun, sekali cair pada akhir tahun, langsung habis untuk bayar hutang atas pemesanan barang dan material bangunan serta infrastruktur yang mereka kerjakan, atau buat menebus mobil mereka yang digadaikan, uang-uang tersebut semua disetorkan ke toke-toke di luar Aceh. gaji buruh kontraktor juga tidak beredar di Aceh, begitu mereka menerima gaji sebagai buruh kasar, langsung dikirim ke kampung halaman mereka untuk menghidupi keluarga, karena pada umumnya ‘pegawai’ bangunan didatangkan dari pulau Jawa.

Lantas uang dari mana lagi yang beredar di Banda Aceh, jika sumber-sumber uang tersebut semuanya mengalir keluar? Ya.. Ada sebagian kecil masyarakat yang bekerja di sektor-sektor ril, perdagangan, dagangannya kecil-kecil, modalnya pun kecil, untungnya pun kecil, putaran uangnya pun kecil, semakin banyak para pelaku sektor ril ini tumbuh, maka semakin baik keadaan ekonomi, karena merekalah sebenarnya yang mempertahankan agar uang tetap beredar di masyarakat bawah, dari pasar ke pasar uang mereka bergerak bergantian pemilik hingga uang tersebut lusuh karena banyak tangan yang sudah menggenggam uang yang sama, melipat, meremas, dan melemparkannya di atas tumpukan para pedagang bawang dan cabai di pasar-pasar tradisional… Uang itu berputar-putar, mungkin sampai juga ke tangan kita.

Kembali ke warung kopi, uang dari manakah yang berputar-putar di warung kopi itu? Itu adalah uang mahasiswa, ya, uang mahasiswa yang datang dari penjuru kampung dan desa yang ada di Aceh. Mereka lah yang selama ini tanpa kita sadari telah memainkan peranan penting bagi pergerakan ekonomi di tingkat bawah, yang menghidupkan usaha-usaha sektor ril dari uang-uang nyata yang mereka miliki yang diperoleh dari hasil kebun, tani, dan sawah yang digarap orang tua mereka di kampung.

Secara sederhana, bisa kita gambarkan bagaimana uang-uang tersebut datang ke kota; Di Banda Aceh, menurut data pemkot Banda Aceh, ada sedikitnya 20 (dua puluh) perguruan tinggi yang mendapat ‘pasar’ di Banda Aceh, Mulai dari PTN seperti Unsyiah, IAIN, hingga PTS seperti Universitas Muhammadiyah Aceh, Serambi mekkah, Abulyatama, dll. Unsyiah memiliki mahasiswa sejumlah lebih kurang 39ribu, IAIN sekitar 20ribu, Unmuha kira-kira 7ribuan. Jika dirata-rata jumlah mahasiwa dari 20 PTN/S tersebut ada sekitar 5ribu saja, maka berarti ada sejumlah 100ribu mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan di perguruan tinggi di Kota Banda Aceh.

Jika diasumsikan bahwa 50% saja dari jumlah total mahasiswa tersebut adalah pendatang dari Kabupaten/Kota se-Aceh, atau dari luar Aceh, maka ada 50ribu mahasiswa yang mendapat kiriman dari orang tua mereka. Jika diasumsikan jumlah kiriman setiap mahasiswa perbulannya adalah 2 juta, itu berarti sejumlah Rp. 100milyar.

Bisa kita bayangkan, setiap bulan uang-uang yang ada di daerah-daerah tersedot ke Banda Aceh melalui tangan-tangan ‘luhur’ dari para orang tua mahasiswa yang kerja keras banting tulang di kampung dan desa-desa demi masa depan anak-anak mereka. 100 milyar setiap bulannya bukan lah jumlah yang sedikit. Uang-uang ini semua memiliki sifat yang bebas bergerak karena berada di tangan mahasiswa; untuk biaya sewa kamar, biaya makan, biaya pulsa, ngopi, dan sebagainya.

Nah, fenomena yang kita lihat sepanjang hari di kota Banda Aceh adalah fenomena warung kopi yang selalu ramai dikunjungi para mahasiswa. rasanya tidak ada mahasiswa yang tidak pernah duduk di warung kopi karena berbagai kepentingan. Baik untuk mencari bahan kuliah melalui internet, atau sekedar duduk ngopi, tapi yang jelas, mahasiswa-mahasiswa zaman sekarang duduknya pasti di warung kopi.

Uang para mahasiswa ini lah yang dominan berputar di warung-warung kopi ini, itu pula sebabnya, tidak ada warung kopi yang sepi di kota Banda Aceh, sekalipun dibuat di lokasi yang tersembunyi, tetap ramai pengunjung, kalau tidak siang, ya., malam pasti ada. 100 milyar bukan uang yang kecil untuk berputar di warung kopi yang harganya secangkir hanya 4ribu – 5ribu perak.

Jadi, kita mestinya mengapresiasi keberadaan mahasiswa di kota kota bukan hanya sebagai penyambung lidah rakyat bawah, tetapi juga sebagai ujung tombak yang menggerakkan gerigi ekonomi warga kota. Pemerintah bukanlah satu-satunya pensuplai uang, apalagi jika serapan anggarannya sangat kecil, dapat dipastikan uang mengendap di bank-bank yang kemudian memutarkan uangnya lagi keluar daerah.

Kita berharap, para mahasiswa yang menjadi ujung tombak ini kelak setelah sarjana akan menjadi pengusaha-pengusaha tangguh yang mampu ‘mencetak’ uang untuk perbaikan ekonomi daerah, bukan cuma bercita-cita menjadi pegawai negeri.

 Leave a Reply

(required)

(required)

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>