Nov 252015
 

IMG_20151123_101122Menyambung cerita tentang Fakultas Kopi di catatan lalu. Kafe berkonsep Akademis ini bukan cuma sekedar membubuhkan namanya dengan sebutan fakultas, tetapi ada proses yang substansinya sama dengan belajar-mengajar dalam kelas layaknya mahasiswa kuliah, hanya beda metode belajar-mengajarnya saja.

Dalam kelas fakultas kopi banyak ditempel poster-poster yang tidak lazim dilakukan pebisnis kafe pada umumnya karena menyangkut rahasia dapur bisnis dan menjaga duplikasi oleh pesaing. tetapi ini tidak berlaku di Fakultas Kopi. Selain psoter-poster daftar dan gambar menu, di kelas fakultas kopi juga ditempel tentang proses bagaimana kopi yang diminum di kelas ini diolah sejak dari kebun kopi, poster-poster ini bergambar disertai penjelasan teknisnya.

Salah satu contoh, di bagian kanan ruang kelas ada pembelajaran mengenai proses Pemetikan (picking) kopi dan dituliskan keterangan dimana proses itu dilakukan dan apa jenis kopinya. Kemudian tahap selanjutnya adalah Pengupasan (pulping), yaitu kagiatan pengupasan biji kopi yang dilakukan maksimal 8 jam setelah pemetikan menggunakan mesin khusus pengupas. Proses selanjutnya dilakukan Fermentasi, yaitu kopi yang sudah dipulping didiamkan selama 18-40 jam, kemudian dicuci sampai bagian yang berlendir hilang atau bersih. Setelah dipastikan lendirnya hilang dan kopi jadi bersih, baru kemudian kopi tersebut dijemur tetapi tidak terkena sinar matahari secara langsung selama 5-8 hari sampai kandungan airnya tersisa hanya sekitar 10-12%, proses ini disebut dengan Pengeringan (drying).

Tidak hanya sampai disitu, pembelajaran dalam kelas Fakultas kopi juga menyajikan meteri bagaimana cara melakukan sangrai (rosting) dengan menggunakan mesin dan tenaga profesional yang tersertifikat dunia… Hebat bukan? Untuk melakukan rosting bukan cuma mengandalkan mesin, tetapi tenaga ahli yang bersertifikat internasional…  🙂

Di bagian lain, ada materi kuliah Metode Penyeduhan Kopi yang ditampilkan dengan gambar peralatan penyeduhan dan keterangan alatnya sekaligus komposisi yang diracik dalam produk kopi di fakultas kopi. Misalnya konsep pembuatan espresso. Espresso adalah minuman yang disajikan secara cepat dengan memberikan air panas dan tekanan yang tinggi pada sekupulan bubuk kopi. Sekumpulan bubuk kopi setara dengan 7-9 gram.

Espresso terbagi dalam beberapa jenis; Americano adalah kategori espresso dengan komposisi setengah Hot water dan setengah espresso. Untuk jenis Cappucino dicampur sepertiga gelas espresso, sepertiga Steamed Milk, dan sepertiga foamed Milk, jenis kopi ini memang cenderung terasa hambar, tetapi sangat bermanfaat bagi pelanggan yang menginginkan low fat. Dan untuk menciptakan espresso Latte dikombinasikan sepertiga espresso, dua pertiga Steamed Milk, sisanya  Foamed Milk. Untuk semua ukuran tiga jenis minuman ini adalah 120 mg dalam secangkir.

Nah.. Masing-masing jenis kopi ini memiliki nilai SKS yang berbeda. Dan itu dapat dilihat dalam daftar SKSnya, anda tinggal mengkalikan jumlah SKS dan harga per SKS jika ingin menikmati setiap jenis kopi. Selain minuman, fakultas kopi juga menyediakan makananan khas dengan sebutan Nasi Perang, harganya 1 SKS. Di setiap produk yang dipajang memiliki kata-kata yang bersemangat untuk memberikan dorongan adrenalin kepada pelanggan. Salah satunya, “Indomie + Kopi, bagaikan sahabat sejati kebanggan negeri.

Bagaimana dengan buku-buku bacaan yang identik dengan lingkungan akademis? Di kelas fakultas kopi tersedia rak dan lemari-lemari berukuran sedang dan berkapasitas masing-masing kira-kira 10-20 buku yang menempel di tiang dan sebagian dinding-dinding kelas. Lemari dan rak tersebut berisi buku dan majalah-majalah yang bervariasi, namun untuk saat ini karena usia fakultas kopi masih baru, koleksi buku-bukunya belum banyak, bahkan baru satu rak yang terisi beberapa majalah. Sementara rak lemari lain masih kosong.

Baca Juga :

Nov 222015
 

kopiPersaingan bisnis menjadikan orang semakin kreatif, apalagi bisnis-bisnis yang produknya hanya mengharapkan pasar lokal. Kalau bisnis yang berorientasi pada pasar global, kreatifitas terletak pada bagaimana pebisnis memanfaatkan teknologi informasi untuk menyampaikan produknya ke berbagai belahan dunia ini, bagaimana pebisnis melakukan kerjasama kemitraan dengan distributor dan kerjasama dengan pihak ekspedisi sebagai jaminan barangnya sampai tepat waktu, atau paling tidak, tidak terlalu lama terlambat sampai di tempat.

Bahkan konsumen tidak terlalu peduli pada teori-teori bauran pemasaran yang diterapkan oleh pebisnis global market oriented ini, karena mereka hanya ingin diyakinkan bahwa barang berkualitas dan benar-benar sampai pada konsumen sesuai spek yang diminta.

Berbeda dengan bisnis yang berorientasi pasar lokal, kreatifitas menjadi hal yang paling penting dan utama karena pasar yang disasar diperebutkan oleh banyak pemain dengan produk yang sama dan konsumen yang juga sama. Bahkan mungkin pertumbuhan produsen (pemain) dengan produk yang sama melebihi pertumbuhan konsumen. Dalam kurun waktu tertentu, kondisi ini akan berdampak pada fenomena yang disebut pasar jenuh. Pasar jenuh merujuk pada kelesuan bisnis di suatu tempat dikarenakan tingginya pemain bisnis masuk pasar sementara pasar sasaran statis, konsumennya hanya itu-itu saja. Mau tidak mau, harus berbagi pasar, dan profit tentu saja sulit untuk meningkat, akhirnya pebisnis hanya melakukan aktifitas bisnis untuk mempertahankan pasarnya sampai mampu mencapai Break Even Point, setelah itu baru dipertimbangkan, tutup atau lanjut.

Kreatifitas yang benar-benar kreatif, tidak mengeluarkan modal tambahan yang besar, karena dalam konteks bisnis dengan orientasi pasar lokal kreatifitas adalah ide, ide untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dari pesaing. Bisnis model ini mestinya dimiliki oleh pebisnis-pebisnis di bidang kuliner dan kafe. Bisnis kuliner adalah bisnis yang berorientasi pada pasar lokal, jika pun ada bisnis kuliner yang berorientasi pasar global, dalam pengertian dapat menjangkau pasar di luar daerah, ini masih sangat langka, sebagai contoh Gudeg. Tetapi tidak semudah yang dibayangkan, jika sejenis gudeg bisa dikirim keluar daerah, maka citra rasanya akan berubah, atau setidaknya menggunakan bahan pengawet untuk menjamin saat gudeg sampai di tempat, masih aman untuk dikonsumsi.

Ide kreatif bisa untuk konsep produknya (tangible) dan kreatifitas dalam menciptakan suasana atau pelayanan (intangible). Beberapa ide kreatif dapat  ditelusuri di mesin pencari Google tentang konsep kuliner. Seperti di Xining South Road, Lane 50, Wanhua District, Taipe, Thailand ada kuliner dengan konsep “Modern Toilet Restaurant”, semua fasilitas dan peralatan yang digunakan memang berbentuk barang-barang yang ada di kamar mandi dan toilet. Tempat duduknya berbentuk toilet duduk, mangkuk tempat minum berbentuk toilet. Meja makannya berbentuk wastafel. Semua serba toilet..

Di Jogya ada restauran berkonsep penjara. Ruangannya disetting terlihat seram dengan jeruji besi khas penjara. Pelayannya menggunakan pakaian narapinada, dan mereka akan menyodorkan koran-koran lama yang terlihat suram. Koran-koran tersebut adalah daftar menu. Konsep ini terinspirasi dari situasi penjara di Taiwan (mungkin pemiiknya pernah mendekam disana ya.. 🙂

Lagi, di Thailand ada restoran dengan konsep “Cabbage & Condoms Restaurant”. Ornamen yang terdapat di dalam resto ini semua terbuat kondom, termasuk topi yang dipakai para pelayannya juga menggunakan kondom. Mengenai filosopinya, silahkan digoogle 🙂

Tampaknya, ide-ide tentang konsep bisnis yang unik-unik bahkan terkesan menjijikkan banyak terinspirasi dari negeri Gajah Putih itu. Di Indonesia, konsep-konsep unik juga banyak, tetapi belum sampai pada hal yang ekstrim-ekstrim seperti di Thailand.

Di sepanjang  Jl. DR. mansyur Medan merupakan area bisnis kuliner yang sangat pesat di akhir-akhir ini, dari pangkal hingga ke ujung Dr. mansyur berjejer jenis kuliner mulai dari wakop, fastfood, kafe, warung makan modern dan tradisional, Empek-empek, Mie Aceh dan banyak lagi lainnya. Yang baling banyak adalah kafe dengan konsep yang berbeda-beda. Kopi Ong mengusung konsep kopi yang digiling langsung saat di pesan, dan memiliki produk unik, yaitu kopi yang sudah disimpan selama tiga tahun lebih, anda akan menunggu lebih lama untuk dihidangkan kopi dibanding kafe-kafe lain karena kopinya harus digiling setelah ada order dari pelanggan. Musik yang diputar di kafe ini pun khusus musik klasik, mereka tidak akan memutar musik rock heavy metal. Kopi Ong memberikan kenyamanan bagi pelanggannya untuk menikmati kopi dengan rasa tenang dibawah lantunan musik klasik…

Kopi Ulee Kareng dan Gayo II mengandalkan konsep kopi saring ala Aceh dengan pelayanan standar dan ‘Ulee kareng’ sebagai merk yang dijual ke pelanggan. Selain itu, banyak berjejer kafe-kafe dengan suguhan musik-musik keras yang didatangkan dari anak-anak band di kota Medan, bagi anda yang suka berheavy metal, cocok berkunjung ke kafe-kafe model ini.

Jadwal Kuliah FKYang terbaru, kafe berbasis konsep kampus, nama kafenya pun sangat akrab dengan suasana mahasiswa, Fakultas Kopi. Fakultas kopi memiliki produk-produk yang disesuaikan dengan istilah perkampusan, seperti jadwal buka dan tutup disebut Jadwal kuliah. Jadwal Kuliah dimulai setiap hari pada jam 10.00 hingga jam 24.00. Kecuali hari minggu, Jadwal Kuliah dimulail jam 14.00. Untuk satuan harga disebut SKS. Jika dalam daftar harga dituliskan 1 cangkir espresso = 2 SKS, maka itu berarti seharga Rp. 5000 x 2 sks = Rp. 10.000. Penggunaan nama Fakultas Kopi ini sangat relevan karena pasar sasaran utama kuliner di seputar Dr. Masnyur adalah mahasiswa, terutama mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang terletak di persimpangan Jamin Ginting – Dr. Mansyur.

Fakultas Kopi menjadi bahan pembicaraan sebagian besar penikmat kopi di kafe-kafe yang sudah mapan. Dan nyatanya memang banyak yang ngopi disana untuk merasakan suasana baru, dan yang jelas, harga sangat miring, mungkin karena masih promo. Penamaan Fakultas Kopi ini merupakan cara lain untuk menarik perhatian penikmat kopi yang sudah memiliki tempat nongkrong selama ini. Biasanya, penikmat kopi yang sudah jatuh hati pada satu kafe, agak sulit untuk pindah ke lain hati, kecuali mendapat undangan dari teman untuk ngopi di tempat lain. Selain cocok di rasa, pelanggan ini umumnya sudah akrab dengan para baristo sehingga begitu mereka masuk kafe, dari jauh tinggal mengangkat dagu atau isyarat lambaian tangan, maka pesanan segera datang dengan ukuran tingkat kepahitan, manis dan getir yang sudah biasa dipesan pelanggan. Ini salah satu yang membuat pelanggan kopi cenderung menjadi pelanggan tetap di satu kafe.

Kecenderungan pelanggan ini lah yang menjadi indikasi bahwa pelanggan lokal memang terasa jenuh, statis dan tidak berkembang. Mereka jadi rebutan pebisnis dengan menciptakan konsep-konsep baru di dunia kafe selain harus memenuhi standar-standar umum seperti WiFi gratis, layar lebar infokus, parkir yang nyaman, dan tempat shalat bagi pelanggan muslim.

Menghadapi situasi inilah dibutuhkan kreatifitas yang tinggi dan inovasi produk-produk yang memiliki nilai tambah dari pesaing, jika tidak memiliki ini, maka dapat diperkirakan, bisnis akan tutup dalam waktu satu semester. Dan ini terlihat dari beberapa kuliner dan kafe yang sudah menutup rolling door untuk selamanya, setidaknya begitu yang saya saksikan di sepanjang Dr. Masnyur Medan. Mereka kalah karena membuka bisnis dengan konsep konvensional dan terlihat tak siap bersaing dengan kafe-kafe-kafe yang sudah mapan dan dengan mengusung konsep yang terus diperbarui, serta memiliki produk-produk yang mampu mempertahankan cita rasa yang tak bisa diduplikasi pesaing.

Mempertahankan pelanggan saja sudah membuktikan kemampuan survive bisnis kafe ini, apalagi mampu mengiris pangsa pasar pesaing karena daya tarik konsep atau cita rasa yang berbeda, itu namanya pebisnis tangguh 🙂

Dan, apa nilai unik bisnis anda?

Baca Juga :

Sep 182015
 

Melakukan survei kecil-kecilan di kota Medan berkaitan dengan menguatnya nilai dolar terhadap beberapa bidang bisnis. Tugas survey ini dilakukan oleh tim kecil yang dibagi dalam 6 (enam) kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari 3 anggota. Setiap kelompok diberi tugas melakukan survey pada objek bisnis yang berbeda:

  1. Ibu Rumah Tangga
  2. Pedagang Besar
  3. Pedagang Kecil
  4. Rumah Makan/ Resto
  5. ….
  6. ….

Survey kecil ini hanya ingin menjawab dua pertanyaan:

  1. Apakah ada pengaruh menguatnya dolar (melemahnya rupiah) terhadap bisnis yang dijalankan?
  2. Apa tindakan yang dilakukan sebagai solusi mengatasi situasi tersebut (jika dampaknya negatif)?

Untuk catatan ini, hanya menginformasikan hasil yang dilakukan kelompok 4 (empat), yaitu Rumah makan dan Resto yang ada di Kota Medan dengan tidak menentukan jumlah objek yang disurvey. Dari survey tersebut dapat disimpulkan beberapa hal berkaitan dengan dua pertanyaan di atas sebagai berikut:

Tak dapat dihindari bahwa menguatnya nilai dolar terhadap mata uang asing, termasuk rupiah, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap geliat bisnis kuliner. hal ini disebabkan beberapa hal:

  1. Sebelum harga BBM naik, sebagian besar pebisnis kuliner telah menaikkan gahji pegawai mereka, namun dalam waktu tidak lama ternyata harga BBM nai, yang diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan pokok yang digunakan sebagai bahan baku kuliner, sementara itu, tidak mungkin melakukan penurunan gaji.
  2. Sebagian bahan baku mengalami kenaikan harga pasca kenaikan BBM. Selain ada bahan baku yang komponennya dari bahan impor, seperti tempe, tahu, daging sapi, dll, kenaikan barang-barang lain yang tidak dari barang impor juga terjadi karena sebagai efek domino kenaikan BBM, seperti harga ikan, sayuran, dll.
  3. Menguatnya nilai dolar yang diikuti oleh melemahnya daya beli masyarakat sehingga menyebabkan berkurangnya omset penjualan pada restoran dan rumah makan, karena kecenderungan masyarakat berhemat.
  4. Fluktuasi harga bahan baku yang tidak stabil cenderung mengkhawatirkan karena kenaikan harga-harga berlangsung lama (inflasi).
  5. Kondisi ini dirasakan oleh hampir seluruh restoran dan rumah makan yang diinterview

Menghadap situasi ini, para pebisnis kuliner harus berfikir keras untuk tetap survive di tengah-tengah kesulitan ekonomi. Bisnis kuliner yang sifatnya dadakan dan tidak memilki manajemen yang baik ada yang gulung tikar. Sementara pebisnis yang memiliki manajemen yang rapi dan memiliki pasar sasaran yang tetap, mereka cenderung bertahan dengan mengubah strategi bisnis mereka pada hal-hal teknis operasional usaha serta pengelolaan manajemen keuangan yang lebih ketat dan terkontrol.

Beberpa upaya yang mereka lakukan sebagai solusi dalam menghadapi situasi ini diantaranya adalah:

  1. Memindahkan bebab/ biaya kepada konsumen. yaitu dengan menaikkan harga setiap produk hingga mencapai 20% sebagai konsekuensi tergerusnya keuntungan akibat dari kenaikan harga-harga bahan baku sehingga laba usaha tetap terjaga.
  2. Mengurangi biaya produksi/ manajemen. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan agar pelanggan tetap nyaman belanja di tempat mereka dengan tidak dibebani oleh kenaikan harga, tetapi manejemen harus melakukan pilihan-pilihan berikut:
  • Mengurani komposisi menu
  • mengurangi volume produksi
  • mengurangi takaran pada setiap menu
  • Mengurangi jenis menu yang ada, biasanya ada 20 menu, maka dikurangi menjadi 10 menu saja

Untuk dapat melakukan semua itu, para pebisnis kuliner melakukan upaya-upaya ekstra di luar kebiasaan dengan melakukan survei di beberapa tempat untuk melihat dan membandingkan harga bahan baku, bahkan tidak sedikit mereka yang memanfaatkan lahan yang dimiliki untuk menanam sayur-sayuran dan sejenisnya secara mandiri demi menekan biaya produksi.

Walau banyak perubahan yang mereka lakukan, para pebisnis tetap berusaha untuk mempertahankan omzet dengan tidak mengorbankan kualitas produk yang bisa membuat pelanggan kecewa dan pindah ke tempat lain.

Tekanan ekonomi yang dirasakan para pebisnis, selain bahan baku, juga dampak dari kenaikan biaya listrik, gas, dan sewa tempat. Sedangkan dari sisi konsumen, mereka semakin ketat dan juga mengurangi jumlah konsumsi, seperti, biasanya mengkonsumsi sampai 3 macam menu, dengan situasi ini mereka menguranginya menjadi dua, bahkan satu menu saja. Hal ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa memang benar daya beli masyarakat melemah.

Baca Juga:

Apr 092015
 

zamzamwarga Kota Medan, khususnya mahasiswa, sepertinya tidak ada yang tak kenal dengan Pondok Zam Zam. Banyak sekali alasan mengapa Zam Zam harus dijadikan sebuah catatan khusus, padahal banyak rumah makan lain di kota Medan.

Baiklah, ini catatan oleh-oleh bagi pelancong yang datang ke Medan dengan biaya cuma sebelah kantong, atau yang memang ingin mencari tempat makan yang sederhana, lengkap menunya, murah harganya, mudah dijangkau tempatnya, dan yang penting juga, rasanya tidak mengecewakan. Referensinya Pondok Zam Zam Dr. Mansyur, Medan.

Saya sendiri sebenarnya pelanggan baru di Zam Zam. Sebagai seorang yang suka memperhatikan dan mengagumi cara-cara seseorang membangkitkan dan survive dalam usahanya di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat, Zam Zam bagi saya sudah menjadi icon penting dalam dunia kuliner di segmentasi kelas menengah ke bawah. Beberapa hal yang dapat saya catat sebagai sikap konsisten Zam Zam dalam menerapkan manajemen usahanya saya pandang sebagai sebuah tindakan yang terkonsep dari perspektif bauran pemasaran yang saya catat sebagai berikut:

pertama tentang produknya. Menu makanan di Zam Zam dapat dikatakan standar, artinya bukan menu asal-asalan, dan memiliki variasi yang lumayan baik bagi kalangan mahasiswa; dalam satu porsi selalu dihidangkan dalam 7 (tujuh) piring yang terdiri dari satu piring kecil kuah, satu piring kecil sayur tumis, satu piring kecil sayur, satu piring kecil sambal, satu potong ikan/daging atau lauk sesuai pesanan, satu piring biasa nasi, dan satu piring nasi tambah. Tujuh buah piring yang dihidang ini dihitung satu porsi, sekalipun nasi tambah yang ada dalam porsi itu kita habiskan, tetap dihitung satu porsi, tidak dihitung sebagai nasi tambah. Ini adalah ciri khas rumah makan Zam Zam.

Pelayanan Pondok Zam Zam juga unik untuk ukuran rumah makan selevel Zam Zam. Jika pesanan pelanggan sudah dihidang di atas meja, maka petugas pramusaji tetap berdiri di samping meja pelanggan, jumlah pramusajinya cukup ramai, sehingga tidak ada meja yang tak terlihat oleh pramusaji, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika ada pelanggan yang ingin cepat dilayani dan tidak perlu menunggu waktu lama untuk dilayani. Begitu pelanggan selesai makan, pada saat yang sama sudah ada petugas yang membersihkan meja dan meletakkan bill-nya di atas meja pelanggan.

Kedua, mengenai harga. Apapun ikan dan lauk pauk yang anda makan, baik itu ikan panggang, ikan goreng sambal, ikan gulai, ayam goreng sambal hijau, ayam kecap manis, ayam panggang, rendang ayam dan daging, semua memiliki harga yang sama setiap porsinya, hanya Rp. 8ribu. Ingat…. !!! satu porsi adalah sekali hidang sejumlah 7 (tujuh) piring yang di dalamnya sudah ada nasi tambah yang tidak dihitung sebagai nasi tambah. Akan dihitung sebagai nasi tambah bila anda meminta di luar porsi yang tujuh piring tersebut. Dahsyat bukan? Ya, memang ada harga yang di atas itu, jika anda memesan ikan panggan nila yang ukurannya hampir sebesar piring nasi, ini harganya berbeda, Rp. 12-15ribu, tetapi tetap lebih terjangkau  dibanding ikan yang sama di tempat lain. Jika anda makan satu porsi plus satu gelas teh manis dingin (mandi), totalnya Rp. 12ribu, itu setara dengan harga satu gelas kopi espresso di kafe-kafe di kota Medan. Jika ingin menikmati puding telor, harganya hanya Rp. 6ribu per porsi, juice Rp. 6ribu per gelas. Harga-harga di Zam Zam memang tergolong tidak normal, dan sangat berani.

Ketiga, distribusi. Dalam konteks bauran pemasaran, distibusi tak terlepas dari lokasi, transportasi, dan tingkat persediaan. Karena Pondok Zam Zam menyasar target untuk segmentasi menengah ke bawah, bilkhusus, mahasiswa, maka Zam Zam selalu dekat dengan kampus atau tempat-tempat keramaian pasar warga kelas menengah ke bawah. Zam Zam tidak pernah kehabisan persediaan karena pondok ini memang dibuka 24 jam, benar-benar 24 jam real time. Bahkan jika anda hobi puasa Senin Kamis, jangan khawatir untuk makan sahur, Zam Zam pasti buka.

Keempat, variabel terakhir dalam marketing mix, promosi. Tidak terlihat adanya aktifitas promosi seperti iklan di media cetak atau media-media lain. Ini menunjukkan percaya diri yang sangat tinggi karena Zam Zam bermain di area harga, yang hingga saat ini mungkin belum ada yang dapat menyaingi, jika pun ada, tingkat penguasaan pasarnya terbilang kecil dibanding Zam Zam sehingga tidak dibutuhkan promosi. Dalam teori Siklus Hidup Produk, Zam Zam tampaknya menikmati dan mampu bertahan pada tahap kemapanan dalam waktu yang cukup lama.

Dua kekuatan Pondok Zam Zam, yaitu harga dan pelayanan cukup menjadikan Zam Zam sebagai ‘pondok indah’ yang menggiurkan untuk dihampiri. Jika anda datang ke Medan, Pondok Zam Zam patut anda coba untuk membuktikan dahsyatnya harga dan pelayanan mereka, dan bagi pebisnis, tentu akan banyak ide yang anda peroleh dari manajemen usaha yang diaplikasikan oleh pengelola Pondok Zam Zam.

Kekuatan usaha anda dimana? Ayo beri ciri khas yang tidak dimiliki pesaing agar product life cycle anda bertengger lama pada tahap kemapanan/kedewasaan, dan dapat mengulur waktu agar tidak cepat sampai pada tahap decline, atau jika bisa, dari kemapanan langsung melompat ke tahap pertumbuhan kembali, mungkinkah 🙂

Baca juga: