Jan 062015
 

ideaWaktu masih remaja dulu, kami sering berkumpul dan sharing informasi mengenai apa saja terkait dengan kegiatan organisasi yang sedang kami jalankan. Mulai dari sekedar kegiatan diskusi kecil, pengajian, training, workshop, dan teknik-teknik pembuatan proposal hingga membangun komunikasi dengan funding, bahkan memikirkan fund rising untuk lembaga.

Yang sampai sekarang masih terngiang dalam candaan teman-teman se-organisasi dahulu, setiap kami berkumpul, ada satu orang teman yang kerjanya hanya mendengar dan mendengar saja, komennya hanya muncul sekali-kali jika dia tertarik untuk mengkomentarinya. Jika dia diam saja, maka pembicaraan kami berarti tidak menarik bagi dia, dan mungkin tak bermakna. Diamnya dia bukan karena tidak punya ide dan tak suka bicara, tapi diamnya ini diam emas. Jadi, kalau tiba-tiba dia berkomentar, maka teman-teman lain langsung saling pandang dan menyilangkan jari telunjuk ke bibir, ‘sssttt….. Jangan keras-keras ngomongnya, nanti di dengan sama Rizal”.

Biasanya, apapun yang kami bicarakan, jika itu merupakan ide berkualitas, maka tak lama setelah bubar dari kumpul-kumpul itu, tiba-tiba Rizal sudah menyelesaikan satu atau beberapa ‘ide baru’ dalam bentuk dokumen proposal. Dengan bangga dia memperlihatkan idenya tersebut kepada teman-teman lain untuk ditindaklanjuti dan diimplementasikan dalam kegiatan nyata, padahal itu ide dari teman-teman yang ‘ngerumpi’ sebelumnya 🙂

Ide memang merupakan titik awal dari semua aktifitas ke depan. Tanpa ide, tak ada aktifitas yang bisa dilakukan. Tapi, Ide bukan semata-mata sesuatu yang berdiri sendiri. Ide perlu dieksekusi melalui tindakan dan langkah-langkah yang lebih konkrit agar ada progresifitas yang mengarahkan ide tersebut menjadi kenyataan.

Di negeri kita ini, luar biasa banyaknya ide yang muncul dari hal-hal kecil. Karena ide yang cemerlang hal-hal sepele menjadi luar biasa. Namun sangat disayangkan, kita miskin eksekusi karena banyak faktor, diantaranya faktor ekonomi, sosial, budaya dan politik. Faktor-faktor ini di Indonesia didominasi oleh perilaku negatifnya, sehingga eksekusi untuk hal-hal yang sifatnya membangun pun sering sekali terjadi.

Kita bisa melihat secara jelas di media sosial, banyak sekali masyarakat yang mengupload gambar atau video atau status yang berisi ide-ide cemerlang yang dapat dikembangkan untuk bisnis, tetapi mereka hanya bisa melakukannya sebatas ide, tidak sampai pada eksekusi. Sayangnya, ide-ide ini diupload secara vulgar dan dapat dilihat oleh publik.

Bisakah kita bayangkan, jika ide tersebut dilihat oleh perusahaan-perusahaan bermodal besar? Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya penelitian yang besar hanya untuk melihat persepsi dan keinginan pelanggan terhadap suatu produk untuk dikembangkan. Mereka tak perlu membuat simulasi awal saat ingini mengetahui bagaimana produk mereka sesuai dengan kondisi di suatu tempat. hal ini karena semua produk yang telah beredar di masyarakat akan mengalami masalahnya masing-masing, dan dari masalah ini pengguna produk akan melakukan inovasi mandiri dengan memodifikasi produk agar sesuai dengan model pekerjaan di tempatnya. Jika mereka berhasil melakukannya, maka hasil modifikasi mereka tersebut biasanya akan disosialisasikan melalui media sosial berupa video. Apa yang mereka harapkan?

Beberapa contoh sederhana yang sudah banyak beredar di media sosial adalah; alat pemanjat kelapa menggunakan mesin, kereta sorong roda tiga bermesin, alat perangkap tikus dari botol aqua, dan banyak lagi produk-produk modifikasi hasil ide-ide brilian yang diupload secara vulgar oleh masyarakat. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan bermodal besar terus mengintip dan ‘mencuri’ ide-ide ini untuk dijadikan konsep pengembangan produk mereka selanjutnya. Dan ini tentu saja menjadi gratis, karena produk modifikasi tersebut belum dipatenkan, sehingga dengan bebas dapat direplikasi oleh perusahaan menjadi produk baru kembali.

Masyarakat yang punya ide, tetapi perusahaan yang dapat mengeksekusi. Untuk itu, jika anda punya ide brilian, sebaiknya diregistrasi dulu untuk dipatenkan baru kemudian diupload sebagai sarana marketingnya jika ingin dipasarkan. Selamat berkarya…

Jan 032015
 

Walaupun menurut riset bahwa Pakistan akan mengalahkan Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, dimana Pakistan diprediksi akan mencapai 256,1 juta jiwa jumlah penduduk muslimnya, dan Indonesia 238,8 juta jiwa, namun itu masih tetap tergolong besar. Lagi pula, prediksi itu berlaku untuk 20 tahun yang akan datang setelah riset dilakukan pada tahun 2011. Berarti angka tersebut akan dicapai kira-kira pada tahun 2030, demikian hasil riset asal Amerika, Pew Forum on Religion & Public Life. Salah satu alasan yang dikemukakan lembaga riset tersebut, karena terjadinya penurunan tingkat kelahiran di Indonesia.

Terlepas dari persoalan di luar bahasan dalam catatan kecil ini, sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, bahwa, every moment is bussines. Ya… Setiap momen adalah bisnis, tapi hanya bagi orang-orang yang terbiasa berfikir positif dan gemar memberi solusi. Dan, nampaknya, tidak berlaku bagi orang-orang yang cenderung berfikir negatif, suka mengeluh dan selalu memiliki perspektif buruk dalam setiap penilaiannya terhadap sesuatu apa saja di luar dirinya.

Tak bisa kita pungkiri, keberadaan ummat Islam di Indonesia yang mayoritas, dilihat dari sudut pandang bisnis, sangat potensial dijadikan pasar oleh produsen produk apapun. Baik laki-laki maupun perempuan. Untuk perempuan, semua jenis produk yang digunakan oleh perempuan non muslim, umumnya digunakan juga oleh perempuan muslim. produk-produk yang digunakan oleh perempuan muslim, belum tentu digunakan oleh perempuan-perempuan non-muslim. Bukan hanya produk dalam bentuk barang, tetapi juga jasa.

Beberapa contoh sederhana adalah jilbab, mukena, kaus kaki, baju gamis, dan lain-lain. Ini hanya digunakan oleh perempuan muslim, sudah tentu tidak digunakan oleh perempuan non-muslim. Dalam bidang jasa juga demikian, perempuan muslim tidak akan melakukan aktifitas yang berkaitan dengan kegiatan yang diharuskan menyentuh secara fisik seperti urut, pijat refleksi, sekalipun masih banyak yang dengan rela melakukannya, tetapi kesadaran perempuan muslim semakin meningkat.

Kenapa contoh ini yang saya kemukakan? Karena peluang ini memang sangat menjanjikan, dan untuk bidang jasa refleksi, ternyata masih sangat sedikit yang menyediakan tempat untuk pijat refleksi khusus perempuan muslim. Jangankan perempuan, kaum laki-laki saja masih banyak yang enggan mendatangi tempat-tempat pijat refleksi karena imagenya masih negatif, hanya sedikit sekali tempat tertentu yang sudah sangat dikenal dan diketahui betul yang didatangi karena sudah yakin tempat tersebut benar-benar pijat refleksi murni.

Di Banda Aceh, anda tak perlu ragu untuk masuk ke ruang pijat refleksi, karena umumnya memang disediakan tempat khusus untuk perempuan yang terpisah dengan ruang laki-laki. Begitu juga pemijatnya, laki-laki dipijat oleh laki-laki, dan perempuan dipijat oleh perempuan. Pemisahan ini membuat pelanggan merasa nyaman dan benar-benar dapat menikmati pijat refleksi yang sesungguhnya.

Di daerah lain, seperti di Medan, beberapa kali saya menanyakan tempat pijat refleksi kepada teman-teman disana, mereka belum bisa menunjukkan tempat yang benar-benar khusus yang memisahkan tempat perempuan dan laki-laki.

Sebenarnya ini adalah peluang bisnis yang sangat baik sekali, bahkan semakin hari semakin dibutuhkan karena saat ini angkatan kerja sudah didominasi oleh kaum perempuan sebagai wanita karir. Mereka keluar rumah di pagi hari dan pulang di sore hari. Sampai di rumah, mereka kelelahan. Se-isi rumah kelelahan, konon lagi jika pulang dari tempat kerja di luar rumah ada persoalan yang terbawa hingga ke rumah, akan menjadi tambah runyam. Jika anda wanita karir dengan kondisi seperti ini, pijat refleksi adalah sarana yang sangat nikmat untuk menghilangkan lelah anda.

Bagi pebisnis, memanfaatkan perempuan muslim bukan sesuatu yang salah, anda mendapat dua keuntungan; laba usaha, dan berusaha menghargai wanita. 🙂

Baca juga:

D i s t r o