Oct 172015
 

garuda_lionIndustri penerbangan di Indonesia saat ini terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan dan potensi masyarakat kelas menengah. Salah satu maskapai penerbangan yang gencar bermain di pasar low cost carrier, Lion Air, sudah mulai terlibat ikut merebut pasar full service yang selama ini berada dalam cengkeraman penuh sang Garuda.

Batik Air, salah satu maskapai yang baru diperkenalkan ke publik oleh group Lion adalah maskapai yang mengusung konsep full service, keberadaan Batik Air setidaknya akan membuka kuku-kuku Garuda untuk melepas sedikit demi sedikit cengkeramannya dan siap ditampung oleh Batik Air.

Walau pihak manajemen Garuda selalu menanggapi dengan enteng, tak bisa dipungkiri, bahwa kenyataannya pasar Garuda memang tergerus dengan kehadiran Batik. Status Garuda sebagai Leader market di pasar full service lambat laun akan terganggu.

Full Service VS Low cost carrier

Konsep full service adalah penerbangan yang mengutamakan pelayanan penuh kepada penumpang baik dari segi kenyamanan hingga keamanan, pelayanan konsumsi yang berkualitas, entertainment, kelebihan bagasi, serta pelayanan-pelayanan lainnya yang tidak terdapat pada maskapai penerbangan yang berkonsep Low cost carrier (LCC). Atau dengan kata lain Full service memiliki banyak additional service yang menjadi nilai tambah dari main service yang ditawarkan.

Sedangkan LCC adalah konsep penerbangan dengan biaya murah dan pelayanan yang terbatas, dalam hal ini, Lion menjadi pemimpin pasar di tanah air. Tapi, sebagaimana pernyataan pihak Garuda, tidak begitu saja menganggap enteng keberadaan Batik Air dalam kenyataannya. Untuk menyeimbangkan kondisi profitnya, Garuda juga mengorbitkan Citylink untuk menggerus kembali pasar mereka, tetapi pada segmen pasar low cost. Citylink disiapkan untuk mengiris-iris pasar low cost yang selama ini dikuasai Lion Air.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, perebutan pangsa pasar antara Goup Garuda dan Lion untuk penerbangan domestik sepanjang kuartal I 2015 adalah; grup Lion menerbangkan 7,15 juta penumpang dan grup Garuda melayani 6,65 juta penumpang

Namun jika dibandingkan dengan data periode yang sama tahun lalu, grup Garuda yang terdiri dari PT Garuda Indonesia Tbk dan PT Citilink Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan penumpang sebesar 12,71 persen karena sepanjang kuartal I 2014 hanya menerbangkan 5,9 juta penumpang.

Sementara grup Lion yang mengoperasikan tiga maskapai yaitu PT Lion Mentari Airlines, PT Batik Air, dan PT Wings Abadi Air justru mengalami penyusutan jumlah penumpang sebesar 14,88 persen. Karena sepanjang Januari-Maret 2014 lalu berhasil menerbangkan 8,4 juta penumpang.

Jika dirunut satu per satu, penyebab turunnya kinerja grup Lion disebabkan oleh anjloknya jumlah penumpang yang diterbangkan Lion Air. Pada kuartal I 2015 ini, maskapai kepala singa itu hanya melayani penumpang sebanyak 5,8 juta orang. Sementara pada kuartal I 2014, jumlah penumpang yang diterbangkannya mencapai 7,25 juta penumpang atau turun 20 persen.

Kemudian Wings Air mengalami penurunan jumlah penumpang sebesar 10,15 persen dari 813,9 ribu penumpang pada kuartal I 2014 menjadi 731,22 ribu penumpang pada kuartal I 2015.

Penurunan jumlah penumpang Lion Air dan Wings Air membuat naiknya jumlah penumpang Batik Air secara tahunan tidak bisa mendongkrak jumlah penumpang grup secara keseluruhan. Padahal Batik Air berhasil menggandakan jumlah penumpangnya dari 336,13 ribu pada kuartal I 2014 menjadi 618,78 ribu di kuartal I 2015.

Data-data tersebut menjelaskan bahwa, pasar penerbangan pada segmentasi LCC yang menjadi andalan Lion Group digerus oleh Group Garuda melalui maskapai Citylink, dan sebaliknya, pasar pada segmentasi Full Service dimana Garuda adalah sebagai pemimpin pasar, digerus juga oleh Group Lion melalui anak perusahaannya Batik Air. Walau demikian, secara total, perusahaan Garuda dan anak perusahaannya telah mengalahkan Lion Group pada kuartal pertama di tahun 2015 dikarenakan perubahan perilkau konsumen atas kedua penerbangan tersebut, dimana Garuda diuntungkan oleh sikap Lion yang sering delay, sehingga penumpang Lion diperkirakan pindah ke penerbangan Garuda yang masih memiliki nama baik dari segi penundaan jadwal.

Baca juga:

Sep 172015
 

saham rakyat acehPada bulan januari 2011 lalu, saya didatangi oleh seorang kerabat saya sesama pengabdi di lingkungan kampus. Beliau terlihat serius sekali memperlihatkan sehelai kertas kuitansi jadul asli yang tulisannya masih sangat jelas dibaca, sebagian diketik dan sebagiannya bertulis tangan, lengkap dengan stempel basah yang sudah tampak kabur dimakan usia.

Beliau menceritakan bahwa kertas tersebut secara turun-temurun diwariskan oleh nenek nenek nenek mereka hingga sampai ke tangan beliau. Dengan agak malu-malu beliau menanyakan kepada saya apa betul Garuda Indonesia mau dijual? Saya pun tercenung sejenak… Apa urusan beliau ini dengan penjualan saham Garuda?

Setelah kami berdiskusi sejenak, saya berkesimpulan bahwa beliau mengikuti berita tentang Penawaran Umum Perdana (IPO/ Initial Public Offering) saham PT. Garuda Indonesia yang dilakukan oleh PT. Bahana Securities, PT. Danareksa Sekuritas, dan PT. Mandiri Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek.

Beberapa saat setelah mendengar cerita beliau barulah saya faham apa kaitannya dengan kertas lusuh yang dia bawa itu. Ya, kertas itu ternyata kuitansi tanda terima uang dengan judul kop nya, “Tanda Penerimaan Pendaftaran”, yaitu pendaftaran hutang, tercantum tulisan “Matjam Hutang: Pindjaman nasional”

Masih ingatkah kita, nuun… Pada tanggal 16 Juni 1948, entah apa yang dikatakan Soekarno di hadapan para saudagar dan rakyat Aceh sehingga rakyat Aceh waktu itu seperti dihipnotis secara serentak memiliki rasa yang sama untuk berkorban demi kelangsungan nafas negeri ini.

Soekarno menangis di depan Daud Beureueh dengan mengancam beliau (Soekarno) tidak akan mau makan jika rakyat Aceh tidak memberikan dana untuk pengadaan pesawat. Rengekan Soekarno ini membuat luluh hati rakyat Aceh ketika itu, dan akhirnya mengamini permohonan Soekarno. Maka beramai-ramailah saudagar dan rakyat Aceh menyumbangkan harta mereka sehingga terkumpul dana untuk pembelian pesawqat yang diberi nama Seulawah RI 001 yang kemudian diperasikan secara komersil di Burma di bawah bendera perusahaan “Indonesia Airways”, dan menjadi cikal bakal Garuda Indonesia Airways.

Proses pengumpulan dana tersebut memakan waktu yang panjang, karena penghimpunan dana dilakukan tidak hanya di Banda Aceh, tetapi sampai ke seluruh daerah di Aceh berbondong-bondong menyerahkan uang dan emas mereka. Termasuklah salah satu nenek buyut dari kerabat saya ini ikut menyumbangkan uangnya sejumlah Rp. 100.- (Seratoes Rupijah) Demi tegaknya kedaulatan Indonesia. Itu terjadi pada tanggal 29 Agustus 1950, dimana, Seratoes Rupijah itu sama dengan harga seekor kerbau pada saat itu.

Mendengar Garuda melakukan penawaran saham perdananya, dalam pengertian lain bagi sebagian masyarakat, “dijual”, maka kerabat saya ini meminta untuk dicarikan jalan agar negara tahu bahwa itu perusahaan pesawat “milik” Aceh, dan selama ini tidak ada kompensasi apapun yang mereka terima dari laba yang telah diperoleh oleh Garuda, bahkan mungkin tidak ada pejabat yang mewakili Aceh sebagai “pemegang saham” yang dilibatkan dalam mengambil keputusan penawaran IPO tersebut.

Mungkin sangat berlebihan bagi sebagian orang, tetapi kenyataannya dalam kuitansi tersebut jelas tertera siapa penyumbang dan bagaimana sifat sumbangannya. Salah satu copi kuitansi yang saya dapat dari salah satu keluarga dari penyumbang di Aceh Barat itu, tertulis dalam kuitansi bahwa dana tersebut merupakan “Pinjaman Negara”, dalam dunia investasi, ini sama dengan surat hutang negara, atau sering kita dengar dengan istilah obligasi, dimana negara akan menerbitkan sertifikat obligasi sebagai upaya pemerintah menghimpun dana dari masyarakat dengan memberikan kupon sebagai imbalan “bagi hasilnya”.

Tapi, sudahlah, ini soal sumbang-menyumbang, dari dulu masyarakat Aceh pun tidak menuntut hal-hal yang bersifat material dari garuda, masyarakat Aceh hanya butuh pengakuan, pengakuan sejarah yang tidak boleh dilenyapkan, dan kekhawatiran ini semakin hari-semakin mendekati kebenaran. Dalam beberapa artikel dan catatan tentang sejarah Garuda, terjadi pengaburan sejarah asal-muasal garuda, bahkan menurut salah satu teman sosmed saya brother Dua Bintang, beliau membaca Brief of History Garuda Indonesia, disana tidak disebutkan lagi asal-muasal pesawat Garuda itu… Ini sangat menyedihkan…

Kuitansi yang lusuh dan asli itu pun sekarang tetap beliau simpan, dan akan diwariskan lagi kepada anak cucu mereka sampai tujuh turunan, untuk menuturkan cerita tentang perjuangan indatu mereka yang gagah perkasa menopang tubuh negeri ini yang dulu hampir terkapar… Mereka tidak dianggap pahlawan, karena tak bisa ciptakan syair perjuangan, tak pandai cari media yang bisa memoles citra mereka, dan tidak mengharapkan belas kasih dari selembar kertas lusuh itu, mereka hanya ingin orang tahu, bahwa negeri ini harus tetap berdiri dan tetap tahu diri…”