Dec 062016
 

aksi-filantropi-212Data pasti mengenai jumlah massa yang turut serta dalam aksi super damai 212 di Jakarta yang baru saja kita saksikan memang masih simpang siur. Sebagaimana diketahui umum bahwa kapasitas Monas hanya mampu menampung 700ribu massa. Sementara jika melihat lautan massa yang begitu menyemut diduga jumlah massa mencapai jutaan, pendapat sebagian kalangan dihari ketiga pasca aksi, bermunculan data-data jumlah massa hingga mencapai 7juta jiwa. Kalkulasi yang dilakukan berbagai pihak sangat beragam, mulai dari menghitung secara kasar dan mengira-ngira, menghitung luas area dengan mengkalikan perorang 0,3 sehingga diperoleh jumlah total massa, hingga yang menggunakan kalkulasi lebih canggih dan praktis seperti google earth.

Saudi Arabia dalam musim haji 2016 hanya dapat menampung 1,8 juta jama’ah, tidak terbayangkan jika kuota haji Indonesia dibuka lebih lebar, barangkali pemerintahan Saudi akan sangat kewalahan menyediakan fasilitas bagi jama’ah haji ummat Islam Indonesia. Sebagai catatan, bahwa aksi 212 adalah panggilan hati, bukan “panggilan surat”. Ummat Islam yang menunaikan haji adalah panggilan Allah, sehingga, membuka lebar-lebar kuota haji dapat diprediksi bahwa jama’ah Indonesia lah yang paling banyak mendaftarkan diri.

Lantas berapa angka yang wajar kita catatkan untuk massa 212 tersebut? Agar tidak terlalu berlebihan, dapat kita ambil angka tengah dari sekian banyak seliweran data yang beredar, katakanlah 4 juta orang peserta aksi. Jika diasumsikan empat juta massa ini menghabiskan belanja 1,5 juta per orang, maka akan diperoleh angka 6 triliun uang yang beredar pada satu hari tersebut. Angka yang sangat fantastis, dan jauh melampaui potensi ekonomi yang dihasilkan oleh even tahunan seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang hanya mampu mendatangkan potensi sebesar Rp. 4,5 triliun dalam satu minggu. Artinya PRJ hanya dapat meraup potensi Rp. 643 milyar per hari, atau hanya 11,71% dari potensi ekonomi 212. Atau bahkan jika dibandingkan dengan target pendapatan pemprov DKI Jakarta dari sektor pariwisata pada tahun 2015 sebagaimana disampaikan Kepala Disparhub DKI Jakarta dengan 2,5 juta wisman dan 32juta wisatawan nusantara, hanya mampu mendatangkan uang lebih kurang sebesar Rp. 3,5 – 4 triliun. Angka yang sangat jauh dalam pencapaian satu tahun dibandingkan sehari pada aksi super damai 212.

Selain potensi ekonomi yang ditimbulkan dari aksi ini, ada sisi-sisi unik lainnya yang mengalir menyertai kesejukan dalam aksi ini, sampah tidak berserakan, rumput tidak ada yang terinjak sehingga jelas terlihat batas tepi manusia berdiri dengan garis lapangan tempat rumput tumbuh menghijau. Jika menggunakan helicopter view terlihat seperti lukisan yang memperjelas warna jalan yang memutih dan rerumputan serta pepohonan hijau yang tak bergeming sedikitpun. Dan menelisik lebih jauh ke dalam kerumunan sungguh banyak aksi-aksi filantropi yang dipraktekkan peserta.

Aksi Filantropi dan Ekonomi Berbagi

Di belakang hiruk pikuk massa aksi super damai 212 ini sangat banyak cerita dan hikmah yang harus digali dan dapat diambil hikmahnya. Selain dari perspektif ekonomi, sosial, politik dan keamanan, hal yang jarang menjadi sorotan adalah aspek filantropi para peserta aksi yang menghanyutkan kita dalam rasa haru yang dahsyat. Energi ini tidak dapat direkayasa sedemikian rupa karena jika hati yang berbicara dia akan menghasilkan power yang tiada bandingnya. Kerelaan para peserta untuk hadir ke Jakarta dengan biaya sendiri saja merupakan suatu sikap batin yang sulit diukur. Apakah gerangan yang menggerakkan hati ummat Islam seluruh nusantara menjadi satu suara? Tertib, rapi, indah berbaris bershaf-shaf seperti bangunan kokoh yang sulit ditembus oleh provokasi dan hasutan, sehingga aksi benar-benar berjalan lancar dan super damai. Untuk ini, kita patut angkat topi untuk manajemen aksi massa dan seluruh peserta.

Para pedagang keliling, penjual nasi bungkus, lontong dan segala jenis makanan merelakan dagangan mereka untuk disantap gratis oleh para peserta aksi. Di gerobak-gerobak dan buffet-buffet dagangan meraka dituliskan kalimat “gratis untuk para mujahid”. Aksi kedermawanan yang tak kalah hebatnya. Apakah ini benar-benar gratis? Ya, memang demikian menurut peserta yang hadir. Tetapi jangan keliru sangka. Karena sikap kedermawanan tersebut pula justeru para pedagang yang ikhlas tersebut memperoleh pendapatan yang jauh lebih besar dan berlipat. Karena ternyata para peserta tidak serta merta merasa berhak memperoleh makanan tersebut secara gratis jika mereka merasa punya uang cukup. Para peserta justeru memaksa pedagang-pedagang tersebut untuk menerima uang mereka sebagai layaknya antara penjual dan pembeli. Bahkan banyak dari pedagang yang terharu. Kebaikan mereka hari itu ternyata langsung dilipatgandakan karena menurut pengakuan banyak pedagang, biasanya mereka memperoleh pemasukan setiap hari antara 200-500 ribu perhari. Tetapi hari ini mereka bahkan mendapat rezeki 1-1,5 juta dari hasil kedermawanan para peserta aksi.

Sebenarnya potensi ekonomi yang dihasilkan dari aksi massa ini dapat memberikan manfaat ekonomi bukan hanya bagi Jakarta, tetapi juga bagi seluruh daerah dari mana massa berasal karena pada peristiwa ini, seluruh peserta pasti akan membelanjakan uang mereka mulai dari tempat berangkat hingga ke tempat tujuan dan kembali lagi ke kampung halaman. Dan sifatnya sangat liquid, cari-secair-cairnya karena kebutuhan selama aksi diselenggarakan menuntut uang harus dikeluarkan dari kantong sehinga peredaran uang berlangsung cepat dan sangat membantu mengatasi kemacetan sisi-sisi gerigi ekonomi. Rangkaian seluruh aksi massa ini tentu saja akan berdampak pada sharing economic (ekonomi berbagi) yang memberikan kesempatan kepada banyak pihak menikmati belanja para peserta aksi.

Situasi serupa barangkali dapat kita bandingkan dengan dampak ekonomi yang dialirkan oleh ummat Islam saat mudik dan arus balik pada peristiwa hari raya idul fitri dan idul adha setiap tahunnya. Ummat Islam mengalirkan uang dari kota ke kampung dan kembali lagi ke tempat kerja mereka. Arus uang yang mengalir ini sudah biasa dianalisis oleh para pakar ekonomi baik secara mikro maupun makro sebagai salah satu bentuk pergerakan dan peredaran uang yang berdampak pada perekonomian masyarakat. Untuk kasus ini sebaliknya, uang dari seluruh desa-desa di nusantara mengalir dan hanyut ke kota Jakarta.

Dengan tidak bermaksud menyederhanakan makna ekonomi berbagi, dapat diprediksi bahwa dampak ekonomi yang ditimbulkan aksi massa ini akan mengalir ke banyak sektor riil. Mulai dari pengusaha perhotelan, pedagang pulsa, depot obat dan apotek, warung nasi, kafe, sol sepatu, pedagang asongan, penjual minuman, hingga pemulung sekalipun akan panen dari sampah-sampah yang dihasilkan oleh para peserta aksi.

Dampak ekonomi seperti ini tentu akan sulit diperoleh seandainya para peserta aksi tak dapat dikendalikan dan melakukan tindakan-tindakan anarkis yang merusak fasilitas sekitarnya sehingga menimbulkan kerugian yang mungkin juga sangat besar karena massa yang begitu banyak akan sulit dikendalikan saat terjadi kekacauan.

Kedermawanan bisa dihadirkan di setiap tempat dan waktu seperti dipraktekkan oleh peserta aksi damai 212 ini. Saling memberi dan saling berbagi dapat menciptakan kesimbangan. Keseimbangan akan terjadi pada saat orang yang memiliki kelebihan mengalirkan sebagian kelebihannya kepada orang yang kekurangan. Dalam transaksi ekonomi pun terdapat teori demand & supply yang akan menciptakan titik equilibrium, titik keseimbangan yang hanya terjadi pada saat dua pihak mampu menciptakan satu titik kerelaaan. Aksi filantropi merupakan salah satu dimensi yang dapat menciptakan titik equilibrium dalam kehidupan bermasyarakat.

Artikel ini telah diterbitkan pada kolom Opini Harian Serambi Indonesia tanggal 06 Desember 2016, dan dapat diakses melalui link Opini Serambi Indonesia.

Baca Juga :

Dec 192014
 

kombisSecara teori, komunikasi harus memiliki paling tidak 5 (lima) unsur; sumber,  pesan, media, penerima, dan efek. Sumber atau komunikator adalah orang berfungsi sebagai pembawa atau penyampai pesan. Pesan merupakan sesuatu yang ingin disampaikan. Media menjadi alat untuk menyampaikan pesan tersebut. Penerima adalah orang yang akan menerima pesan yang disampaikan komunikator. Sedangkan efek atau pengaruh adalah berkaitan dengan perasaan si penerima pesan sebelum dan sesudah dia menerima pesan.

Dalam prakteknya, setiap orang berkomunikasi pasti telah memiliki semua unsur seperti disebutkan teori tersebut, karena dia merupakan unsur yang memang secara otomatis harus melekat untuk bisa melakukan komunikasi, baik disadari maupun yang tidak disadari.

Tetapi, sebaiknya kita menyadari satu hal yang sering membuat komunikasi gagal dilakukan. Dikatakan gagal karena tidak adanya pengaruh ataupun efek yang terjadi pada si penerima pesan. Kebanyakan orang menyampaikan informasi, bukan berkomunikasi. Dalam bisnis, komunikasi menekankan pada terjadinya perubahan sikap penerima pesan agar si penerima pesan melakukan susuatu seperti pesan yang disampaikan pengirim.

Iklan merupakan komunikasi bisnis yang dahsyat. Iklan bukan semata-mata menginformasikan keberadaan suatu produk, tapi memilah-milah dan secara perlahan memerangkap calon konsumen menjadi konsumen, dan mengikat konsumen menjadi pelanggan setia melalui perangkat psikologis AIDA; Attention, Interested, Desire, Action.

Attention adalah ruang terbuka bagi semua orang yang belum tersegmentasi. Produsen melalui iklan-iklan hanya memberitahukan bahwa mereka memiliki produk. Untuk produk baru, tentu yang diharapkan pertama adalah atensi, perhatian. Seperti orang yang mulai jatuh cinta kepada seorang gadis, tidak mungkin langsung ajak kencan, tetapi harus cari perhatian dulu agar si gadis tahu keberadaannya. Maka diciptakan pencitraan. Demikian juga produk, memperkenalkan diri kepada konsumen, hanya sekedar minta perhatian.

Jika produknya diiklankan terus-menerus setiap hari tanpa henti dalam durasi waktu yang telah ditentukan, tak bisa dipungkiri, sekali-kali kita tergerak juga untuk bertanya, “produk apa sih ini? pertanyaan kita ini menandakan kita sudah mulai perhatian, target jangka pendek produsen hanya ingin calon konsumen menanyakan itu. Dan kemudian produsen menjawab bahwa produk tersebut adalah barang/jasa yang anda butuhkan.

Jika konsumen merasa bahwa barang tersebut memang dia butuhkan, maka dia akan tertarik untuk melanjutkan mencari tahu lebih jauh tentang produk tersebut, iklan-iklan yang ditayangkan di media bahkan tak cukup lagi bagi calon konsumen  untuk mengenal lebih dekat produk tersebut, dia akan melakukan penelusuran di perusahaan tersebut melalui website atau media-media lain yang lebih detil membahas produk itu. Ini adalah perubahan perilaku calon konsumen yang sudah masuk dalam perangkap kedua, Interested, dia mulai tertarik, setidaknya tertarik untuk mencari tahu.

Informasi yang diperoleh dari hasil penelusuran tersebut akan menambah pengetahuan calon konsumen tentang produk yang ditawarkan. Calon konsumen hanya butuh waktu sebentar untuk memutuskan apakah produk tersebut ‘compatible’ dengan kepentingannya atau tidak, jika iya, maka berarti dia membutuhkan produk tersebut. Merasa membutuhkan sesuatu itu akan menimbulkan semangat baru dengan meningkatkan sedikit level perasaan ke dalam tingkat minat yang semakin rumit, Desire, setingkat di atas interested. Calon konsumen sudah mulai memiliki keinginan terhadap produk itu.

Keinginan adalah motor penggerak seseorang meningkatkan upaya mencari alat untuk memenuhinya. Inilah salah satu motivasi seseorang bekerja keras banting tulang siang dan malam, untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Saat alat pemenuhan kebutuhan dan keinginan sudah tersedia, kita sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih nyata, yaitu Action, aksi. Produknya kita beli.

Dalam bisnis, komunikasi itu dikatakan berhasil jika calon konsumen melakukan tindakan membeli produk yang kita tawarkan. Komunikasi Bisnis bukan sekedar menyampaikan informasi, tetapi menindaklanjuti setiap perubahan sikap calon konsumen untuk tetap berada dalam kamar-kamar perangkap, hingga calon konsumen merubah sikapnya dan memutuskan untuk menjadi konsumen. Tugas selanjutnya adalah menjaga konsumen untuk menjadikannya sebagai pelanggan. Selamat menjalin silaturrahim dengan konsumen…

Baca juga:

Ide Bisnis Datang Dari Persoalan Hidup