Jan 312015
 

tkiDi Indonesia ini banyak Pahlawan. Ada pahlawan karena membela tanah air, mereka telah gugur demi kemerdekaan Indonesia. Ada Pahlawan di bidang pendidikan, disebut pahlawan tanpa tanda jasa, para guru. Selain itu ada juga Pahlawan Devisa, mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia, TKI.

Menurut informasi yang disampaikan oleh Kepada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), M. Jumhur Hidayat, pada tahun 2013, jumlah TKI yang berada di seluruh negara-negara yang ada di dunia ini sudah mencapai 6,5 juta. Jumlah tersebut tersebar di 142 negara. Untuk diketahui, jumlah seluruh negara yang ada dalam data PBB adalah 149 negara, ini artinya, TKI ada dimana-mana, ada di hampir seluruh negara di dunia. Jumlah tersebut sudah sama dengan jumlah penduduk Aceh dan Sumatera Barat, atau hampir mencapai jumlah penduduk satu provinsi Sumatera Selatan, 7,4 juta jiwa.

Para TKI meninggalkan tanah air untuk mencari pekerjaan karena lapangan kerja di tanah air tidak mampu menampung mereka. Di luar negeri para TKI bekerja keras menghasilkan uang dan mengirimkannya ke keluarga mereka di tanah air, atau sering dikenal dengan istilah remitensi. Indonesia memperoleh devisa mencapai 12 triliun dari remitensi TKI yang menyebar di 142 negara. Karena sumbangannya yang begitu besar terhadap devisa negara, dan sangat besar pengaruhnya bagi tekanan terhadap difisit neraca pembayaran. Jadilah TKI sebagai Pahlawan Devisa, dan ini pula lah alasannya mengapa TKI harus dilindungai oleh pemerintah.

Sebaliknya, di negara kita juga ada TKA, Tenaga Kerja Asing,yang bekerja dan mencari nafkah di Indonesia, kemudian hasil pekerjaan mereka juga akan dikirim ke negaranya masing-masing. Di tahun 2013, jumlah TKA di Indonesia mencapai 68.957 TKA, dan perlu diingat, bahwa kualifikasi TKA dan TKI sangat berbeda. Indonesia mengirim tenaga kerja dengan kualifikasi sangat rendah ke luar negeri, sementara, TKA yang masuk ke Indonesia adalah tenaga kerja profesional, sehingga, seperti dikatakan Faisal Basri, Upah yang diperoleh TKA 12 kali lipat upah yang diterima oleh TKI yang dibawa pulang ke tanah air.

Secara sepihak memang remitensi 12 triliun itu sangat besar, tetapi jika dibandingkan sisi keberadaan TKA di Indonesia, tentu sangat tidak berimbang. Situasi ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kita, ke depan, TKI yang dikirim harus semakin meningkat kualifikasinya dengan memberlakukan tingkat pendidikan dan skill yang harus dimiliki TKI agar mereka bisa ditempatkan sebagai pekerja-pekerja profesional yang memiliki kualifikasi tinggi dan memperoleh upah yang tinggi pula.

Disamping itu, keberadaan TKA harus terus dibatasi dan pemerintah mengeluarkan kebijakan agar TKA bersedia mentransfer keahlian mereka bagi tenaga-tenaga kerja di Indonesia sehingga kualifikasi dan kualitas tenaga kerja di Indonesia semakin meningkat dan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tersebut tak perlu lagi harus mendatangkan tenaga ahli dari luar. Ini adalah bentuk dan upaya pemerintah yang dirasa menghargai label pahlawan pada TKI, bukan sekedar memuji mereka tanpa perlindungan dan tidak berupaya untuk memberikan pendidikan keterampilan guna meningkatkan kualitas dan kualifikasi untuk diakui sebagai tenaga kerja yang berupah tinggi di negara lain.

Kita tentu berharap, suatu saat, Indonesia akan memiliki tenaga ahli berlimpah, sehingga bisa dikirimkan ke luar negeri sebagai pekerja profesional yang dihargai tinggi oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Di dalam negeri, kita tak punya lagi tenaga-tenaga yang tidak terampil, kualifikasinya semua di atas rata-rata, sehingga untuk menciptakan barang dengan harga murah, impor saja TKA sebagai buruh pabriknya :-)

Baca juga :

Ekonomi Aceh: Ibarat Mesin Tanpa Oli

 

Jan 292015
 

Pasar-AcehMenurut Kajian Ekonomi Dan Keuangan Regional Provinsi Aceh Triwulan I-2014, yang dipublikasikan di situs Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Aceh melambat karena dipicu oleh beberapa hal, diantaranya; meningkatnya pertumbuhan impor secara signifikan dan tidak diimbangi oleh peningkatan kinerja ekspor. Begitu juga buruknya kinerja konsumsi pemerintah dan rumah tangga. Bahkan pada triwulan II-2014, pertumbuhan ekonomi Aceh semakin melambat hanya tumbuh 0,97 persen.

Coba kita ulas dua hal ini secara awam – kegiatan ekspor impor (non-migas) dan konsmusi pemerintah & rumah tangga – sebagai upaya untuk melihat mengapa ekonomi Aceh tumbuh malu-malu atau ‘tidak tumbuh’.

Nilai ekspor Aceh pada triwulan I hingga IV tahun 2013 terus menurun drastis, hanya naik sekali pada triwulan II sebesar US$ 12,73 juta dari sebelumnya di triwulan I sebesar US$ 2,82 juta, selanjutnya menurun masing-masing Triwulan III menjadi US$ 9,70 juta, dan turun lagi pada triwulan IV pada angka US$ 3,6 juta. Sedangkan pada triwulan I-2014 terjun lagi ke angka US$ 1,5 juta.

Sementara di tahun yang sama, sepanjang 2013 hingga memasuki triwulan I-2014, impor Aceh berbanding terbalik dengan nilai ekspor, angkanya membesar, hanya sekali pada triwulan II-2013 pada angka USD$ 1,34 juta, turun sedikit dari triwulan I-2013 yang berada di angka US$1,44 juta, dan pada triwulan III-2013 menurun hingga USD$ 0,8 juta, tetapi pada triwulan ke IV-2013 kembali naik US$ 1,5 juta, dan memasuki triwulan I-2014 menanjak bahkan mencapai angka US$ 10,7 juta.

Mengapa bisa demikian posisi nilai ekspor dan impor Aceh? Padahal Aceh sangat kaya dengan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh negara lain, seperti hasil hutan, bumi, rempah-rempah, kopi, dan banyak komoditi lainnya yang dapat diandalkan sebagai komoditi ekspor. Hal ini dikarenakan  sumber daya alam Aceh belum dikelola secara profesional sehingga tidak ada jaminan akan kuantitas dan kontinuitas produk, mutu tidak terstandar untuk ukuran barang komoditi ekspor sehingga pasar tidak mau menerima produk dari Aceh. Selain itu, faktor situasi politik dan keamanan Aceh yang belum stabil berdampak pada pengalihan tempat pengiriman barang melalui pelabuhan. Para eksportir lebih merasa nyaman mengirim barang melalui pelabuhan Belawan di Medan dari pada pelabuhan Krueng Raya.

Kurangnya data dan informasi mengenai komoditi Aceh menjadi salah satu penyebab mengapa aktifitas ekspor komoditi Aceh sangat minim, jika pun ada eksportir yang sudah bisa mengakses, umumnya kebanyakan eksportir luar daerah yang menampung barang-barang dari Aceh dan dilabuhkan melalui Belawan ke luar negeri.

Yang kedua, konsumsi pemerintah dan rumah tangga. Sebagaimana disampaikan dalam publikasi data BPS, bahwa rendahnya serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2014 menjadi salah satu sebab lambatnya pertumbuhan ekonomi Aceh. APBA tahun 2014 sebesar 13,3 triliun, angka yang sangat besar jika dibandingkan dengan Sumatera Barat yang APBDnya hanya 3,722 triliun dengan jumlah penduduknya 4,8juta, sama dengan Aceh 4,7 juta jiwa.

Hingga November 2014, serapan APBA Aceh hanya 60,3 persen, Ada lebih kurang 8 persen sisa APBA, hampir tiga kali lipat dari APBD Sumbar, Jika dialokasikan ke Sumbar, maka selama tiga tahun Sumbar tidak perlu repot-repot memikirkan APBD untuk tiga tahun ke depan, tapi di Aceh, dana ini tak dapat diserap, sangat disayangkan. Ini menjadi sumber kemacetan perekonomian Aceh karena begitu banyak dana yang mengendap dan tidak beredar di masyarakat.

Sebenarnya, 60 persen dana yang diserap tersebut, jika benar-benar dimanfaatkan untuk membangun perekonomian Aceh, maka itu sudah sangat lebih dari cukup untuk meningkatkan PDRB, sekali lagi, dengan catatan, dioptimalkan untuk peningkatan dan pembangunan sektor riil. Tapi kenyataannya tidak demikian. Dalam PPAS RAPBA 2015 yang telah diajukan ke DPR oleh pemerintah, sebesar 5,4 triliun dialokasikan untuk belanja pegawai, ini nyaris mendekati 50 persen total APBA.

Kemudian mengenai rendahnya konsumsi rumah tangga, artinya rendahnya daya beli masyarakat. Hal ini logis, mengingat masyarakat memang tidak memegang uang karena peredaran uang terhambat, sangat sedikit uang yang turun beredar di masyarakat.

Aceh mengandalkan perputaran uang dari uang pemerintah, khsusnya gaji pegawai. Sebagaimana kita ketahui bahwa hampir seluruh PNS di Aceh tidak menerima gaji mereka secara penuh setiap bulannya karena SK PNS telah digadaikan di bank-bank untuk mengambil kredit, sehingga setiap tanggal penerimaan gaji, uang PNS tetap berada di bank karena langsung dipotong melalui bendahara kepegawaian, ini artinya uang tidak beredar di masyarakat, tetapi di bank, sementara uang bank akan diputarkan untuk usaha-usaha produktif di luar daerah bahkan di luar negeri.

Jika uang PNS tidak beredar, maka belanja pegawai semakin ketat, sehingga uang ditahan untuk belanja barang-barang yang benar-benar dibutuhkan saja, akhirnya di pasar perputaran uang sangat sedikit, uang-uang tersebut antri secara bergilir berpindah tangan dari toko ke toko dan dari pasar ke pasar sampai lusuh, sebagian dibawa keluar untuk belanja barang lain.

Uang pemerintah yang beredar melalui kontraktor juga demikian. Kontraktor properti misalnya, setelah cair dana karena menang tender, para pengembang akan membeli bahan untuk membangun properti, barang mereka beli di Medan, uang berpindah ke Medan, barang datang ke Aceh. Demikian juga rekanan pengadaan barang perkantoran di pemerintahan, kontraktor akan membeli barang di Medan, kemudian membawa barang ke Banda Aceh, lagi lagi uang pindah ke Medan.

Untuk pekerja bangunan, setiap bulan mereka menerima gaji, untuk diketahui, semua buruh kasar pekerja bangunan didatangkan dari pulau Jawa. Saat mereka menerima gaji, uang-uang tersebut dikirim ke keluarga mereka di kampung masing-masing, uang dari Aceh keluar mengalir ke daerah lain, tidak dibelanjakan di Aceh. Ini juga salah satu penyebab mengapa sulit mendapatkan pekerjaan dan uang di Aceh karena memang uang yang beredar sangat terbatas, sektor riil sebagai ‘mesin uang’ jatuh bangun kurang mendapat perhatian pemerintah, bahkan banyak yang gulung tikar. Saat ini, benteng-benteng terakhir yang menghambar aliran uang keluar Aceh adalah sektor-sektor riil seperti para penjual kue, kebab, burger, dan warung-wrung kopi di kota Banda Aceh. Walaupun uang tersebut akan keluar juga, tetapi masih beredar dalam waktu yang lebih lama menghidupi para pebisnis kecil.

Dengan Anggaran yang begitu besar, tapi pertumbuhan ekonomi Aceh sangat lambat, Ibarat Mesin Tanpa Oli, berlari tidak, berjalanpun terseok-seok.

Baca juga:

Cara Sederhana Memahami Pertumbuhan Ekonomi

Jan 282015
 

akikDemam batu akik masih berlangsung, bahkan sudah merambah secara nasional. Harga batu akik tinggi, bahkan semakin baik trend-nya. Pasca pameran batu akik di Paladdium Mall, Medan, 22 – 25 Januari 2015 baru-baru ini, peminat batu akik semakin ramai, dalam waktu dekat pameran juga akan diselenggarakan di Jakarta dan Bandung.

Terlepas dari harga batu akik menurut variannya, bahwa harus diakui, secara umum harga batu akik hingga saat ini masih stabil dan bertahan, asaosiasi pecinta batu akik secara serempak di seluruh negeri bahu-membahu menaikkan posisi tawar batu mulia ini agar tetap memiliki pasar yang potensial. Jika bisnis batu akik ini bertahan lama dari segi harga dan pasar, akan sangat membantu perekonomian masyarakat di tanah air, karena terbukanya unit usaha baru yang dapat menyerap tenaga kerja.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting sebagai upaya untuk menjaga keberadaan batu akik ini agar menjadi bisnis jangka panjang, tidak redup dengan tiba-tiba seperti halnya musim bunga anthurium beberapa waktu lalu, melejit sebentar dan jatuh tak berharga; (1) Memperkuat asosiasi pencinta batu akik sebagai wadah dan jalur komunikasi bisnis untuk memperkuat posisi tawar. (2) Menerbitkan sertifikat batu akik, seperti halnya sertifikat emas.

Dua hal ini diperlukan untuk menjamin keaslian dan asal-usul batu akik tersebut. Dengan adanya sertifikasi akan mejadikan harga batu relatif terjaga karena pasar akan berasumsi bahwa batu akik merupakan batu yang langka karena persediaannya terbatas dan memiliki nilai yang tinggi karena sifatnya. Selain itu, sertifikasi akan berdampak pada perluasan pasar batu Akik hingga keluar negeri, tetapi dalam bentuk barang jadi, bukan bahan mentah.

Berbagai informasi yang beredar saat ini bahwa, sebagian besar material bahan mentah batu mulia kualitas nomor wahid yang berada di daerah asalnya telah dibooking oleh warga asing untuk dibawa keluar, akses yang sama tidak dapat diperoleh oleh pebisnis lokal dikarenakan pebisnis batu mulia di tanah air kurang kompak dan cenderung bermain sendiri-sendiri. Untuk diketahui, dampak dari dibawanya batu batu ini keluar, stock di negeri sendiri menjadi menipis, bahkan bisa kosong, yang tersedia hanya batu kelas dua dan seterusnya. Batu yang dibawa keluar ini akan diolah menjadi barang jadi dalam bentuk perhiasan mewah dan dipasarkan kembali di tanah air dengan harga yang sangat tinggi. Gejala ini sudah disadari oleh pebisnis lokal, tetapi mereka belum melakukan upaya antisipasi secara terencana karena belum kuatnya asosiasi pebisnis batu dalam negeri. Atau secara individu memang ada yang secara diam-diam melakukan transaksi dengan warga luar karena mendapat keuntungan yang besar dari pada menjualnya kepada warga lokal.

Untuk lebih mudah menandai gejala ini, dapat kita lihat di pasar-pasar batu di daerah, beberapa batu kualitas nomor satu sudah mulai langka, karena sudah dipesan oleh ‘toke-toke’ agar tidak menjualnya di pasar lokal, mereka sudah memberikan harga yang lebih menggiurkan dibandingkan dijual kepada pebisnis lokal. Melihat fenomena ini, sangat diperlukan upaya penguatan asosiasi pebisnis batu dalam negeri agar kelak batu mulia tersebut tidak menjadi barang yang siklusnya ‘dari rakyat kepada toke dan untuk rakyat’, artinya, bahan mentah diambil dari rakyat diberikan kepada toke, dan dijual kembali kepada rakyat dalam bentuk barang jadi.

Baca juga :

Jan 242015
 

burgerBisnis burger menjadi bisnis yang sangat digemari oleh kalangan muda di Indonesia, bahkan mahasiswa yang merantau sambil mencari nafkah banyak yang terlibat dalam bisnis burger ini. Di sepanjang jalan mulai sore hingga tengah malam berjejer memenuhi bahu jalan di kota-kota. Bisnis burger memang tidak terlalu rumit, disamping bahannya yang mudah diperoleh dan modalpun cukup terjangkau bagi kalangan pebisnis pemula, sekedar lepas uang ngopi, pasti dapat.

Makanan yang berasal dari German ini, yakni dari kota kedua terbesar di German, Hamburg, telah dikenal dengan sebutan singkatnya, burger menyebar begitu cepat ke seluruh pelosok dunia, tak terkecuali Indonesia, telah banyak dimodifikasi dari aslinya, sehingga kesan junk food, semakin lama semakin kabur, bahkan sekarang banyak yang berfikir makanan ini adalah termasuk dalam kategori makanan ringan yang ‘menyehatkan’.

Karena begitu cepatnya bisnis burger ini tumbuh dan berkembang, dan sampai saat ini mungkin masih menunjukkan tren naik, tetapi ada yang melupakan satu hal yang sangat penting dalam menjaga situasi tren ini agar tetap naik, atau paling tidak, tetap, ataupun, jangan terlalu drastis dan cepat masuk dalam masa declining, yaitu dimana produk burger akan mengalami penurunan karena sudah tiba masa jenuhnya.

Untuk mengatasi masalah ini, mestinya para pebisnis burger harus dapat menangkap keluahan pelanggan tentang burger. Salah satunya adalah; Cara memakan burger. Harus diakui, ukuran burger normal saja kita sulit untuk menyuap burger ke mulut, harus dengan hati-hati menggigit di bagian-bagian pinggirnya agar tidak kecipratan saos tomat ataupun isi burger yang mudah berserakan di pinggir kedua mulut, ini akan merepotkan dan mengurangi kenyamanan untuk menikmati burger, apalagi saat kita harus memakannya di depan teman-teman.

Lantas apa solusinya? Lakukan revolusi burger. Dalam salah satu elemen bauran pemasaran, ada yang disebut dengan product, produk. Burger harus mengadopsi konsep bauran pemasaran yang satu ini untuk bisa memberikan nuansa baru cara memakan burger agar dapat dinikmati tanpa harus berselemak dengan saos tomat yang dioleskan dalam burger. Mengapa belum ada yang membuat bentuk burger yang tidak bulat? Apakah burger harus bulat lingkaran? Coba bayangkan seandainya bentuk burger memanjang atau lonjong, bukankah lebih nikmat untuk dimakan dan ukurannya disesuaikan dengan besarnya rata-rata ukuran mulut saat dibuka? Saosnya pasti tidak berserak di sekeliling mulut kita, makan terlihat sopan dan nyaman.

Ayo, ganti bentuk burger anda dengan bentuk yang lain, tidak harus bulat melingkar, buat yang bentuknya memanjang segitiga atau bulat lonjong, mungkin mirip-mirip seperti kebab, tapi bukan kebab, Namanya Burger Revolution :-)

Jan 212015
 

humanresourceBelum ada manusia pakar dan ahli di dunia ini yang mengingkari bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya yang dahsyat; tanah, air, udara, harta dalam perut bumi pertiwi, dan hamparan sumber kehidupan yang membentang di atas permukaan tanah negeri ini, bukan hanya sekedar indah dipandang, melainkan semuanya bisa menghasilkan kesejahteraan ratusan juta penduduk Indonesia.

Jepang jelas tak sehebat Indonesia, mereka tidak memiliki kekayan alam seperti kita, tanahnya tak subur, hutannya tidak lebat, bencana gempa dan tsunami yang selalu menjadi langganannya. Singapura juga, wilayahnya kecil, sumber alamya minim. Tapi kedua negara yang disebut terkahir juga tak dapat kita pungkiri, status mereka sejajar dengan negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tinggi, berbeda dengan Indonesia, ekonomi tumbuh lambat dan tetap bertengger dalam posisi negara berkembang dengan pendapatan perkapita US3.592, belum menyentuh batas minimal untuk masuk dalam kategori negara menengah ke atas, US$3.855.

Pendapatan Perkapita Negara Asean Tahun 2013

Pendapatan Perkapita Negara Asean Tahun 2013

Indonesia walau sudah terlihat berupaya, tapi belum sepenuhnya fokus pada pengelolaan sumber daya manusianya, pembangunan fisik masih menjadi prioritas utama yang dijadikan alat ukur untuk mencapai tujuan organisasi dalam bentuk negara ini. Untuk menjadi sebuah negara yang unggul, menurut Ruki (2003), setidaknya ada tiga sumber daya kritis strategis yang mutlak yang mesti dimiliki, yaitu: (1) Financial resource, yaitu sumber daya dalam bentuk dana/modal yang dimiliki (2) human resource, adalah sumber daya yang berbentuk dan berasal dari manusia yang secara tepat dapat disebut sebagai modal insani, dan (3) information resource, yaitu sumber daya yang berasal dari berbagai informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan strategis atau pun taktis.

Dari ketiga sumber daya di atas, human resource merupakan sumber daya yang paling sulit diperoleh dan dikendalikan, karena sifatnya yang sangat dunamis dan membutuhkan manajerial yang rumit. Hal ini juga berkaitan dengan budaya dari sumber daya yang dikelola yang membedakan karakter dari setiap personal dan mengharuskan adanya konsep penanganan yang berbeda. Di negara berkembang, umumnya budaya masyarakat masih dalam masa eforia demokrasi yang di negara-negara maju sudah mapan dan lebih terkendali. Kendala ini menyebabkan negara berkembang mestinya harus benar-benar fokus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar meningkatkan kualitas SDM dan di sisi lain petinggi-petinggi negara harusnya tidak mengambil keuntungan diluar yang menjadi haknya.

Sumber daya alam yang berlimpah bukan merupakan jaminan suatu negara akan mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang baik jika sumber daya manusianya tidak kapabel mengelola sumber daya yang ada. Sebaliknya negara-negara yang minus sumber daya alam sangat fokus pada human resource untuk dapat mengoptimalkan sumber daya alam yang ada di negara mereka, bahkan di luar negaranya.

Baca juga:

Cara sederhana memahami pertumbuhan ekonomi

Jan 202015
 

bisAcehWarga Aceh biasanya belanja barang kebutuhan untuk bisnis selalu di Medan, kota terdekat yang menyediakan berbagai jenis barang. Pagi selesai subuh berangkat dengan pesawat pukul 06.30, tiba di Medan jam 07.15. dari pagi hingga sore adalah waktu yang panjang untuk mengelilingi toko-toko penyedia barang di kota Medan. Sore mengepak barang untuk dibawa pulang, dan jam 20.30 kembali ke Aceh dengan jadwal penerbangan akhir. Istilah orang Medan dan Aceh, pulang hari. Dalam satu hari bisa pulang pergi. Untuk tiket pesawat Banda Aceh – Medan biasanya rata-rata sejumlah R. 270 – 300ribu. Cukup terjangkau.

Itu cerita dulu, sebelum 2013, saat aktifitas landing dan take off pesawat masih di bandara Polonia yang terletak di tengah-tengah kota Medan, masih sangat mudah mengakses kota Medan karena tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di pusat kota, bahkan aktu transit pun masih bisa untuk berlari keluar sebentar sekedar beli oleh-oleh atau bertemu teman di lopi bandara. Sekarang Bandara Polonia tinggal kenangan bagi pesawat komersil, semua aktifitas penerbangan komersil sudah pindah ke bandara baru, Kuala Namu, berjarak sekitar 40km dari kota Medan, dengan perikiraan waktu tempuh 1 jam jika kondisi normal, 1,5 jam jika macet sedang, dan bisa mencapai 2 jam dalam kondisi macet parah. Jika ingin cepat, dengan kereta api dengan waktu tempuh 30 – 40 menit,

Pindahnya aktifitas penerbangan ke Kuala Namu memberikan hikmah lain bagi moda transportasi Antar Kabupaten Antar Provinsi dari Aceh. Selama ini mereka tersiksa karena murahnya tiket pesawat, pelanggan memilih pesawat dari pada bus karena lebih efektif dan efisien, dan dapat mengoptimalkan waktu belanja di Medan dari pada dengan bus menghabiskan waktu 11-12 jam di jalan. dengan pindahnya aktifitas penerbangan ke Kuala Namu, sangat berdampak positif bagi perkembangan Bus AKAP Aceh, hal ini terbukti semakin bertambahnya perusahaan otobus yang baru di Aceh seperti Sempati Star, Royal dan Sanura. Bukan hanya itu, perusahaan-perusahaan lama juga terus menambah unit-unit armada baru dengan jenis bus yang semakin ‘garang’.

Mengapa bisa demikian? Masyarakat Aceh yang belanja ke Medan lebih memilih mengoptimalkan waktu saat berada di Medan agar proses belanja bisa lebih nyaman dari pada menghabiskan waktu di jalan saat sudah berada di Medan. Persoalannya adalah pada waktu tiba di kota Medan. Jika menggunakan pesawat dan turun di Kualanamu, maka dengan jarak dan waktu tempuh tersebut, bisa saja mereka akan tiba di Medan pukul sembilan atau bahkan pukul 10, karena dari Kuala Namu angkutan bandara hanya turunkan penumpang di Gagak Hitam Ringroad untuk penumpang ALS, bus Damri di Carrefour dan Amplas, Kereta Api di Merdeka Walk.

Berbeda dengan pesawat, perjalanan bus dari Aceh ke Medan ditempuh pada malam hari mulai dari jam 7, 8, 9, 10 dan jam 11, dan sampai di Medan 10-11 jam kemudian. Waktu ini dapat digunakan istirahat di dalam bus, sehingga tiba di Medan, mereka bisa langsung ke pasar untuk belanja karena waktu istirahat cukup di dalam bus yang memang disetting dengan fasilitas berstandar tinggi. Full AC, Toilet, TV, Selimut, Snack, tempat duduk yang nyaman, full WiFi, dan jadwal berangkat yang tepat waktu. Standar ini berlaku untuk semua kelas, yang membedakan setiap kelas adalah jumlah seat pada setiap bus, baik yang bertipe 2-1 maupun 2-2.

Walaupun ada sebagian yang tetap menggunakan pesawat untuk ke Medan, tetapi melihat semakin bertambahnya armada bus Aceh, memberikan gambaran bahwa perpindahan bandara ke Kuala Namu berdampak positif terhadap peningkatan penumpang Bus dari Aceh ke Medan dan sebaliknya. Beberapa penumpang mengakui, bahwa jika tujuannya adalah ke Medan, mereka lebih memilih naik bus dari pada pesawat dengan alasan lain, tidak mau repot menghadapi macet dan ingin cepat sampai di kota Medan.

Baca juga:

Jan 192015
 

bungaakikMengamati trend batu akik saat ini mengingatkan kita pada masa-masaoh hebohnya beberapa jenis bunga di tanah air. Kira-kira kurun waktu tahun 2006 hingga 2008, entah dari mana bermula, sebatang Anthurium jenis Jenwave Black Buise ditawarkan oleh sebuah nusrsery dengan harga 250juta (Dua ratus lima puluh juta rupiah), seharga rumah mewah saat itu. Saya bahkan belum melihat bagaimana bentuk bunganya, tapi daun bunga ini hijau seperti daun-daun bunga lainnya, bentuknya mirip daun mangga, tetapi lebih besar.

Ada yang lebih gila lagi, di tempat lain pemilik Anthurium Jenmanii menawarkan bunganya seharga Rp. 1,2 Milyar, membuat kita tak habis fikir. Saya sering merenung dan bertanya, berapa lama kah tanaman tersebut hidup, apakah bunganya memang sedemikian indah? Atau apakah hanya karena bunga tersebut berasal dari belanara Amazone di Amerika sana? Atau karena tanaman ini jenis tumbuhan yang berumah satu dimana setiap satu bunga terdapat dua jenis kelamin, jantan dan betina? tapi yang jelas, kemunculan tanaman hias dengan harga melebihi intan berlian ini redup dan menghilang sering datangnya musin Euphorbia, begitupun, Euphorbia juga ‘layu’.

Kembali ke batu akik, seumur hidup saya, baru kali ini saya merasakan puncak heboh batu akik pasca terjualnya Giok Aceh kepada warga Canada seharga 2,5 milyar, itu angka yang sangat fantastik. Musim batu akik ini sedikit tidaknya membuat banyak masyarakat terbelalak dan ikut mengambil peran sebagai pebisnis dadakan. Bagaimana tidak harga batu mulia ini yang semula pernah ditawarkan ke saya di awal musimnya hanya 500ribu – 1,5 juta per kilo gram, saat ini harga dibuka mulai Rp. 20 – 25juta. Di luar angka psikologis bagi orang yang awam terhadap batu, tapi mungkin akan berbeda pandangan bagi orang yang memang hobi dan menghargai keindahan batu ajaib ini.

Ada fenomena yang saya rasakan mulai berbeda, antusiasme masyarakat untuk memiliki batu akik ini terlihat melemah karena harganya yang sudah di luar kendali, jika pasar sasarannya adalah masyarakat lokal, maka strategi pebisnis batu ini cenderung bunuh diri, tapi jika memang yang ditarget adalah pasar luar, mungkin masuk akal. Tapi melihat perilaku para pebisnis batu akik ini, sepertinya pasar sasarannya bias, belum terfokus, dan penetapan harga sangat terburu-buru, sehingga calon pembeli yang semula ingin membelli, menunda terlebih dahulu sambil melihat situasi permintaan pasar, jika permintaan melemah, dengan sendirinya harga akan turun, jika asumsi ini berlaku umum bagi calon pembeli, maka pebisni batu akik akan merasa terpukul karena ekspektasi dan prediksi mereka terlalu tinggi dengan mematok harga tinggi. Mestinya, jika memang harga yang lebih murah atau sedang saja banyak yang ingin membeli, sebaiknya dilepas saat itu juga, jangan menunggu terlalu lama, disamping jeda waktu menunggu tersebut akan dapat menyatukan persepsi calon pembeli yang tiba-tiba kompak menunggu harga turun, penundaan jual tersebut juga akan berdampak pada perlambatan perputaran uang, secara ekonomis, rugi.

Dua benda unik yang saya munculkan di atas memiliki kesamaan trend, dimana masa jayanya sangat singkat. Dalam kasus tanaman hias, juga terjadi hal yang sama, beberapa kerabat saya yang memiliki bunga Anthurium jenis yang mahal, pernah ditawar pembeli Rp. 50juta per batang, tetapi dia tidak mau menjualnya, dan hanya akan melepasnya jika ada pembeli yang mau membayar Rp. 75juta. Akhirnya memang bunga tersebut tak terjual hingga sekarang, dia pun menyesal, karena sekarang, jangankan 50juta, 500ribu pun ditawarkan, orang sudah tak mau membeli.

Saya meyakini bahwa kondisi ini disadari oleh pebisnis batu akik saat ini, tetapi, mereka tetap berspekulasi dengan harga tinggi. Untuk menutupi celah waktu yang dapat memberi peluang calon pembeli berfikir serempak untuk membeli pada saat harga turun, maka asosiasi pebisnis batu akik mengadakan ‘show of force’ pameran di beberapa provinsi seperti Jakarta, Medan, dan Aceh agar nilai tawar batu akik dapat ditingkatkan, paling tidak bertahan, dan memperoleh perpanjangan waktu di harga yang stabil. tapi yakinlah, ini tidak bertahan lama, karena selama ini memang tidak ada upaya sistematis dan terkonsep serta terorganisir untuk mengupayakan adanya komunitaa-komunitas baru penggemar batu akik. Mereka dari tahun ke tahun hanya itu itu saja, sehingga pasarnya stagnan dan tidak berkembang. Asosiasi penggemar batu akik pun hanya muncul pada saat booming yang tidak disetting dan tidak terorganisir dengan sistematis.

Saran, sebelum masa declining benar-benar tiba, sebaiknya pebisnis batu akik menstandarkan harga agar lebih terjangkau  di berbagai kalangan dan pasarnya dapat lebih luas hingga mencapai ke semua lapisan masyarakat. Adapun kalangan berkelas, yang tidak ingin sama dengan masyarakat awam, dengan mereka dapat dilakukan komunikasi jalur khusus yang ekslusif dengan tetap menjaga identitas mereka sebagai pengguna kelas atas.

Selamat berbisnis…

Baca juga:

 

 

Jan 182015
 

Saat ini setidaknya ada empat macam angkutan yang mengantarkan anda dari Medan ke Kuala Namu atau sebaliknya, yaitu; Bus Damri, ALS, Taksi, dan Kereta Api. Masing-masing angkutan memiliki tarif dan waktu tempuh yang berbeda.

Bus Damri berangkat setiap 15 menit sekali, dan jadwal berangkat Damri dimulai pukul 05.00 dari Kuala Namu menuju Medan. Damri menyediakan sebanyak 20 armada yang hilir mudik mengantar penumpang dengan tiga tujuan di kota Medan, yakni; (1) Pusat Perbelanjaan Carrefour/ Medan Fair di Jl. gatot Subroto, dengan tarif Rp. 15.000 (Limabelas ribu rupiah) per orang. (2) tujuan Terminal Bus Amplas, tarif perorang sebesar Rp. 10.000 (sepuluh ribu rupiah), dan (3) tujuan Terminal Bus Binjai dengan tarif Rp. 30.000 (tigapuluhribu rupiah).

ALS juga melayani rute Kuala Namu – Binjai, Kuala namu Gagak Hitam/ Ringroad, tepatnya di samping Terminal Putra Pelangi, persisnya di sebelah SPBU simpang Empat Gagak Hitam – Jl. Sunggal. Sedangkan Taksi, tujuan sesuai permintaan penumpang dengan tarif rata-rata Rp. 3.500 per kilometer. Jika anda menuju kota Medan, dari kuala Namu berjarak lebih kurang 39 km, sehingga perkiraan tarif normal rata-rata Rp. 136.500,- jika kondisi macet biasanya taksi akan mencari jalan alternatif, yang perlu diingat adalah, tarif dihitung per kilometer. Taksi resemi yang sudah mengikat diri untuk transportasi Bandara adalah; Bluebird, Exspress, Karsa, dan bagus. Sebaiknya anda bicarakan dulu kepada pemilik taksi bagaimana mekanisme pembayarannya. Kalau bus, sudah ada tarif tetap sesuai tujuannya.

Untuk Kereta Api memiliki tarif tunggal, Rp. 80.000 (delapan puluh ribu riupiah), namun, mulai tanggal 15 Januari 2015 sudah naik Rp. 100.000, dengan waktu tempuh dari Medan – Kuala Namu selama 30 menit, dan dari Kuala Namu – Medan sekitar 45 menit perjalanan. Jadwal kereta api dari Medan ke Kuala Namu dimulai pada pukul 04.00 dan terakhir pukul 20.00. Sementara dari Kuala Namu – Medan jadwal pertama pada pukul 05.25, dan terakhir 21.30 Wib.

Kabar gembira bagi calon penumpang yang menggunakan nomor Simpati, berhak mendapatkan kesempatan naik kereta api gratis, GRATIS. Syaratnya harus memiliki poin minimal 500 poin. Silahkan cek melalui nomor *700*1*1#, dan tunggu balasan SMS dari operator yang menginformasikan jumlah poin anda, perlihatkan kepada petugas ticketing, dan anda akan diberi satu tiket gratis Medan – Kuala Namu jika poin anda mencapai 500 poin.

Berikut jadwal lengkap KA  Medan – Kuala Namu – Medan.

Jadwal_MDN_KNO

Baca juga :