Dec 272014
 

kopimieOrang tidak percaya kalau anda sudah pernah menginjakkan kaki di Banda Aceh, jika tidak anda buktikan dengan selembar photo berlatar belakang Masjid Raya Baiturrahman. Itu dulu, orde pra tsunami. Sekarang? Tidak lagi ada pertanyaan apakah anda sudah berpose di halaman masjid termegah di Asia Tenggara itu. Pasca tsunami, branding Aceh sudah bergeser dari menara kubah masjid raya ke kafe-kafe tempat santai para kawula muda bahkan generasi tua, Kopi.

sepulang anda bermusafir dari Aceh, maka orang akan senang mendengar cerita anda menghabiskan waktu di kafe-kafe yang berjejer di sepanjang jalan di kota Banda Aceh dengan kopi khas Ulee Kareng dan Gayo-nya, serta yang tak akan anda lewatkan, spesial menu, Mie Aceh. Anda akan kesulitan menceritakan kenikmatan dua menu istimewa ini, mungkin, kalimat yang cocok dan singkat adalah, datang aja ke Aceh.

Branding Kopi Aceh dan Gayo sudah tertancap baik dibenak khalayak berkat jasa-jasa para relawan tsunami 10 tahun lalu. Mereka datang ke Aceh membawa cinta, dan pulang membawa cerita, cerita tentang gesitnya para barista mengayunkan saring kopi, dan menuangkan ke dalam gelas mungil dengan dosis yang terukur untuk cita rasa kopi yang benar-benar khas Aceh.

Bu Susi, sang Menteri kita yang nyentrik itu, boleh saja protes dan sarankan, agar masyarakat cukup 1-2 jam saja di warung kopi, tapi jika anda sudah duduk kongkow dengan teman, di meja sudah terhidang kopi dan mie, maka jangan salahkan hari jika dia cepat sembunyi, jangan protes malam yang tiba-tiba datang. Apalagi kalau anda membawa gadget, laptop dan smartphone, maka anda akan semakin dimanja dengan fasilitas free WiFi 24 jam. Kebutuhan dan keperluan kerja kantor anda tetap bisa diselesaikan di kafe. Begitu ‘teganya’ pebisnis kafe ini memperlakukan anda 🙂

Duduk di kafe, di Aceh, seperti anda masuk supermarket urusan serba perut, one stop service, tinggal melambaikan tangan ke arah barista, maka semua menu dapat anda pesan: kopi, mie, telor puding, nasi goreng, nasi bebek, segala jenis minuman, martabak telor, bermacam snack, nasi gurih, lontong… Dan buanyaaakk lagi yang lainnya. Bagi penggemar bola, di setiap kafe tersedia layar lebar yang menayangkan langsung siaran bola live dari tivi berlangganan. Anda semakin betah dan malas pulang. Tentu saja, di setiap kafe menyediakan mushalla.

Di kafe kafe inilah para pecinta kopi memulai segalanya. Menyelesaikan masalah kantor, transaksi bisnis, membawa tamu-tamu yang berkunjung ke Aceh, curhat, atau hanya duduk saja untuk menghilangkan stress. Dengan modal 4ribu rupiah untuk segelas kopi, anda boleh duduk sampai pagi, tak akan ada yang mengusir anda, kecuali jika memang kafenya tutup.

Tapi, kafe di Aceh bukanlah seburuk yang dikhawatirkan orang. Banyak hal yang hanya bisa kita peroleh saat kita benar benar menikmatinya, tergantung anda.

Baca juga:

Sate Matang Sejuta Rasa

Dec 262014
 

BatuBisnis baru yang sedang booming sekarang adalah bisnis batu, ya, batu cincin. Bagi penggemar dan kolektor batu akik, hal ini sudah biasa dalam keseharian mereka, tapi untuk tahyn 2014 ada yang istumewa. Giok Aceh jadi topic trending di dunia perbatuan pasca terjualnya salah saty batu giok milik Fadil kepada warga Canada seharga 2,5 milyar. Angka yang sangat fantastik untuk sebuah batu cincin ukurang normal. Saat tanya wartawan mengapa dia mau membeli dengan harga itu, dan apakah dia memang sudah kelebihan uang? Warga Canada tersebut mengatakan bahwa dia telah berkeliling dunia mencari batu giok yang berkualitas, tapi belum dapat, baru inilah dia menemukan batu giok yang berkualitas tinggi sehingga dia rela mengeluarkan kocek 2,5 milyar tanpa beban.

Saya bukan penggemar batu akik, tapi hari ini saya merasakan hal lain saat menjemput seorang kerabat keluarga di bandara dari Riau. Kedatangannya ke Aceh hanya untuk urusan batu cincin. Sebelumnya kerabat saya ini sudah menghadiri kontes giok nasional di Jakarta, dan akan ikut lagi di kontes berikutnya di Palladium Mall, Medan. Rasa ingin tahu saya semakin besar, dan malam setelah menjemput dia di Bandara, ngopi sebentar di Ringroad, kami menjumpai seseorang dikawasan pasar Peunayong untuk mengambil batu, material, bahan mentah batu cuncin. Ini asli Nagan Raya punya, katanya. Singkat cerita, batu itu sudah berada di tangan kami, hanya seukuran telapak tangan dewasa dengan ketebalan kira-kira 2,5-3 cm, beda dengan batu biasa, batu ini berkulit dengan balutan seperti batu karang, untuk melihat isinya harus dikupas sedikit kulitnya, seperti mengupas kulit salak.

Tak ada yang tampak istimewa jika dilihat fisik seadanya, bahkan lebih buruk dari bebatuan yang serung kita lihat di jalan dan halaman rumah kita. Tampak tak bernilai sama sekali, setidaknya bagi saya pribadi. Tapi alangkah terkejutnya saya, saat Ricky, kerabat saya ini, menempelkan senter HPnya ke permukaan batu yang terkupas salah satu sudutnya itu. Luar biasa…

Waooowww… Warna daging batu itu terlihat jelas merah seperti sirup, kalau tak mau dibilang merah darah, menakjubkan. “Ini cempaka” kata Ricky dengan senyum leganya. Karena keunikannya, berkali-kali saya bolak-balik dan senter batu itu, tetap berwarna merah menyala. How it can be? Menakjubkan, pantas warga Canada itu mau gila menggelontorkan uangnya 2,5milyar hanya untuk Giok, ya.. Tapi giok Aceh, yang dari Nagan, begitu kata orang,  🙂

Apakah cukup anda memiliki batu material itu untuk memperoleh nilai yang tinggi? Belum tentu. Ricky jauh-jauh datang dari Riau ke Aceh, bukan hanya mengambil batu, tetapi membawa batu-batu lain dari wilayah Riau, Sumbar dll. Menjualnya di Aceh? No, no way. Penggemar dan pebisnis batu Aceh tak akan mau beli  dan jual batu dari daerah lain untuk saat ini, selain beda kualitas, juga karena ingin mempertahankan nilaitawar batu Aceh, begitu pengakuan Bibi, salah seorang penggemar, kolektor, sekaligus pebisnis pemula batu Aceh.

Nah, Ricky membawa batu-batunya ke Aceh hanya untuk mengasah, membentuk dari bahan mentah ke barang jadi cincin siap pakai. Mengapa? Ternyata, hanya di Aceh yang memiliki skill yang lebih baik untuk mengolah batu itu menjadi indah, simetris, dan terlihat hidup, serta kemampuan pengasah batu Aceh dalam memilih bagian-bagian batu agar terlihat bening setelah digosok. “Tapi nggak semua juga bang, pengasah batu yang sudah dapat pengakuan itu pengasah di Bireuen, kualitas terjamin”, demikian sambung Ricky.

Hmmm… Anda punya bahan mentah batu giok dan sejenisnya? Silahkan asah dan olah di Bireuen untuk memperoleh keindahan dan nilai tawar yang lebih asoi…

Baca juga:

Dec 242014
 

chinaCoba cek semua barang-barang yang dijual di toko kelontong biasa, ruko, mini market, supermarket, hypermarket, atau apa saja istilah marketnya. Mulai dari tusuk gigi, pembersih kuping, pernak-pernik, dan barang-barang yang terlihat sepele lainnya, hingga mainan anak-anak, atau perabotan yang terbuat dari plastik dan fiber, semua made in China.

Menurut data BPS tahun 2012, sebagaimana dirilis detik.com, setidaknya ada 10 macam jenis barang yang diimpor dari China, yaitu: (1) Kapas, dengan jumlah impor mencapai US$50 juta untuk bahan membuat kain. (2) Bahan Kimia An-Organik. Bahan ini digunakan untuk beberapa industri di antaranya, Semen, kaca, dan sebagainya. total impor komoditas ini mencapai sebesar US$44juta. (3) Pupuk. Indonesia menggelontorkan dana sebesar US$598juta, atau sekitar 5,7 triliun pada Desember 2012. (4) Kendaraan dan sparepart. Karena semakin maraknya mobil produksi China yang, baik roda dua maupun roda empat, Indonesia harus mengimpor komoditas ini dengan nilai US$634juta sepanjang tahun 2012. (5) Plastik dan Barang dari Plastik. Tak bisa dipungkiri, nyaris semua mainan anak-anak dan keperluan rumah tangga terbuat dari bahan plastik, dan yang tersedia di pasar-pasar tradisional dan modern di Indonesia adalah barang-barang dari China. Indonesia telah menghabiskan dana US$834juta, atau sekitar 8 triliun untuk mendatangkan produk-produk tersebut.

(6) Benda-benda dari besi dan baja. Selain barang-barang yang terbuat dari plastik, tidak sedikit barang-barang yang terbuat dari besi yang juga didatangkan dari China. Indonesia telah mengeluarkan dana sebesar US$ 1 milyar untuk barang-barang ini sepanjang tahun 2012. (7) Besi dan baja. Aktifitas pembangunan di Indonesia, terutama proyek konstruksi sangat bergantung pada besi dan baja, dan semua barang ini diimpor, dan salah satunya adalah dari China dengan nilai impor sebesar US$i,1 milyar dalam tahun 2012. (8) Mesin/ peralatan listrik. Pertumbuhan impor untuk komoditi ini cukup tinggi, mencapai US$ 6,5 milyar, atau sekitar Rp. 62 triliun. (9) Mesin-mesin/ pesawat mekanik. Sepanjang tahun 2012, komoditi ini diimpor dengan nilai sebesar US$ 7,1 milyar, atau 67,5 triliun. (10) Bahan kimia Organik. nilai impor sebesar US$ 1 milyar.

Mengapa China sangat agresif, selain menciptakan barang jadi, juga mengekspor bahan mentah dengan nilai ekspor yang begitu besar? Karena China harus menghidupi warganya negaranya dengan mengejar pertumbuhan ekonomi yang wajar dengan menciptakan barang-barang, menciptakan devisa dari aktifitas ekspor impor barang jadi dan bahan mentah.

Selain itu, China tidak ingin hanya menjadi pasar sasaran di arena global. Potensi pasar di China dengan jumlah penduduk pada tahun 2013 mencapai 1,3 milyar, sedangkan jumlah warga China di muka bumi ini mencapai 7 milyar. China tidak ingin pasar potensial ini hanya dinikmati oleh negara lain, oleh karenanya, China bertekad menjadi pemain bagi dirinya dan dunia.

Rasa nasionalisme China cukup tinggi, sehingga produk-produk mereka akan sangat mudah diterima dimana pun di dunia ini dengan keberadaan warga China yang mencapai 7 milyar di seluruh dunia. Barang-barang yang mereka ciptakan didedikasikan untuk warganya dan warga dunia. Hal inilah yang membuat Amerika merasa resah karena bangkitnya perekonomian China dapat mengganggu hegemoni Amerika dalam perekonomian dunia.

AFTA, MEA, dan perjanjian-perjanjian penghambat batasan dagang lainnya yang ada di dunia ini tidak akan mengkhawatirkan negara-negara seperti China karena mereka akan menjadi salah satu pemain, bukan sekedar pasar. Seluruh negara berlomba mendorong masyarakatnya untuk berkreasi menciptakan barang dan pekerjaan untuk menghadapi persaingan global.

Baca juga :

Komunitas Ekonomi Asean

Dec 232014
 

Donald-Trump-QuotesKata Paul Hovey, “Dunia orang buta dibatasi oleh sentuhannya, dunia orang dungu dibatasi oleh pengetahuannya, dan dunia orang hebat dibatasi oleh visinya”.

Tiga macam tipe manusia ini adalah analogi yang menggambarkan bagaimana cara seseorang menjadikan dirinya kelak. Orang yang tidak ingin mengubah mindset di tengah-tengah perubahan zaman akan terkungkung pada pola pikir yang sempit. Sekalipun dia sudah berlari kencang, sebenarnya dia sedang berlari di tempat.

Donal Trump memang tidak menghabiskan waktunya melulu untuk kuliah. Selama kuliah Trump sudah mulai bekerja pada ayahnya, walau hanya pada saat-saat libur musim panas. Setelah menyelesaikan studinya, Trump kemudian serius berbisnis pada perusahaan real estate milik ayahnya.

Saat teman-temannya asyik bergelak-tawa membaca komik dan berita olahraga, Trump justeru sudah terbiasa mempelajari daftar proyuek perumahan negara yang disita, hingga akhirnya Trump mendapat inspirasi untuk memborong apartemen bermasalah sejumlah 1.200 unit di Cincinnati, Ohio. 800 apartemen diantaranya kosong karena bermasalah. Di tangan Trump, apartemen Swifton ini disulap menjadi lokasi yang bergengsi bahkan Trump menaikkan tarif 66% menjadi 100%. Dan saat menjualnya kembali, Trump meraih laba US$6juta.

Karena kesuksesannya, ayah Trump berkomentar, “Segala yang disentuhnya seolah-olah berubah menjadi emas”. Dan setelah itu, Trum terus berfikir dan bermimpi menjadi pebisnis yang lebih hebat. Trump memiliki cita-cita yang besar yang dia tancapkan sebagai visinya dalam berbisnis.

Cerita sukses para pebisnis dunia bukanlah cerita dongeng belaka. Mereka benar-benar nyata dalam kehidupan, jejaknya dapat dibaca di banyak media dan dicetak dalam buku-buku motivasi bisnis. Kalimat-kalimat bijak mereka selalu digunakan untuk mendorong semangat pebisnis muda yang benar-benar memahami makna kata bijak tersebut, bukan sekedar membuat status untuk memperbanyak ‘likers’.

Dunia ini terus berubah sesuai perkembangan zaman yang mengiringi kemajuan teknologi informasi dan manajemen usaha yang baik. Tak satupun aktifitas bisnis di dunia ini yang luput dan mengabaikan keberadaannya. TI sangat berkontribusi besar membantu menajemen mengoptimalkan upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan produktifitas.

Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan manajemen usaha sangat dianjurkan agar usaha tidak stagnan, dan pebisnis tidak kehabisan ide-ide untuk mengembangkan usahanya. Aset dan perkembangan usaha akan berhenti sejauh pengetahuan yang dimiliki, untuk itu perlu meningkatkan pengetahuan bisnis dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pebisnis-pebisnis tangguh seperti Trump, Bill Gate, steve Job dan lain-lain adalah pebisnis yang memiliki visi yang tercipta dari akumulasi ilmu pengetahuan yang mereka kunyah selama hidupnya. Visi tidak mungkin muncul tanpa proses berfikir yang logis dan berlandaskan pada ilmu pengetahuan. Mengabaikan keberadaan ilmu pengetahuan akan menjadikan kita seperti orang buta dan orang dungu.

Menutup diri pada ilmu pengetahuan, baik diperoleh secara formal ataupun non-formal,  akan menjadikan kita seperti yang diucapkan paul Hovey di atas, “Dunia orang buta dibatasi oleh sentuhannya, dunia orang dungu dibatasi oleh pengetahuannya, dan dunia orang hebat dibatasi oleh visinya”.

Dec 222014
 

IMG-20141221-00198Sering mengunjungi orang sakit? Atau ikut acara pesta adat? Ya, tentu saja pernah. Selain bawa amplo, sebagian orang lebih suka bawa buah-buahan sebagai buah tangan, alias oleh-oleh. Atau saatberkunjung ke rumah kerabat, sanak keluarga dan teman-teman, buah-buahan merupakan bawaan yang paling umum.

Dimana anda sering belanja buah-buahan? Di gerobak sorong yang mangkal di pinggir jalan? Pasar buah tradisional? Atau supermarket? Jika anda sudah pernah belanja di tempat-tempat itu, maka anda pasti bisa membedakan bagaimana rasa suasananya. Sejak dulu pedagang buah tradisional yang kita lihat hingga hari ini tidak berubah. Menyusun buah-buahan di atas meja di kedai terbuka, dengan atap seadanya, tidak ada pegawai khusus yang melayani, lantainya basah jika hujan, pembeli harus hati-hati berjalan agar tidak kena percikan air di lantai, kondisi buah bervariasi, ada yang segar, setengah segar, tidak segar bahkan busuk. Kadang-kadang kalau tidak jeli, semua bisa dicampur jadi satu, tidak ada jaminan kualitas, pembeli yang harus pandai memilih buah segar. Pedagang buah tradisioanl jarang memikirkan kondisi-kondisi ini, bagi mereka, berdagang adalah menjual barang asal habis. Bagaimana mengatasi agar buah tetap segar, bagaimana melayani pembeli, bagaimana meningkatkan nilai tambah untuk memaksimalkan laba, itu tidak terlalu penting. Itulah sebabnya pedagang buah dari waktu ke waktu tetap seperti itu, maju tidak, mundur mungkin.

terbalik dengan Supermarket. Mereka menyediakan buah yang sama, dengan harga yang sama, bahkan lebih murah, kalaupun mahal sedikit tidak masalah, karena pembeli merasa nyaman; tempatnya bersih, buahnya segar, harganya pasti, timbangannya pas, buah-buahan yang dijual dijamin kualitasnya, hujan panas tidak persoalan.

Di antara kedua pasar itu, yang tampak seperti titik ekstrim kiri dan kanan, ada model yang lain. Too yang menjual khusus buah-buahan, persediaan barangnya seperti pasar buah tradisional, tetapi pelayanannya ala supermarket, plus penawaran paket buah-buahan untuk oleh-oleh yang disesuaikan dengan bentuk kegiatannya.

Setiap paket memiliki harga berbeda dan jumlah serta jenis buah yang berbed, dan dikemas dalam plastik khusus yang diletakkan dalam keranjang khusus juga, persis seperti parcel. Pembeli tinggal bilang mau paket berapa. Kalau paket 200ribu akan diisi dengan 6 – 7 macam buah-buahan dengan berat total hingga 5 kilogram, disusun rapi dan dipastikan anda akan bangga menjinjingnya dari toko menuju kendaraan anda, bahkan dengan rasa bangga. 7 macm buah-buahan ditentukan oleh pembeli, penjual akan menyusunnya dalam kemasan parcel. Pelayanannya sungguh mengasikkan, pembeli menunggu sambil melihat-lihat yang lain, atau sekedar bbm-an memberitahukan kepada temannya bagaimana nyamannya belanja disini.

Toko tersebut juga menyediakan keranjang kosong dan plastik parcel bila ada yang membutuhkan, harga mulai dari 30ribu, 35ribu, hingga 100ribu. Untuk paket buah-buahan, yang besar dihargai 500ribu dengan jumlah dan jenis buah yang lebih variatif. Keranjang, plastik, pelayanan, tempat yang nyaman, adalah nilai tambah yang tak pernah basi. Dia selalu diharapkan pembeli, berapapun harga buah, pembeli cenderung tetap berbelanja disini. Niali tambah ini, selain dapat meningkatkan penjualan, sudah tentu memaksimalkan laba, mempertahankan pelanggan, bahkan biasanya merwka tak perlu beriklan, karena pembeli yang merasa nyaman akan dengan sukarela menjadi ‘bintang iklan’ buat teman-temannya. Mereka akan dengan bangga merekomendasikan tempat belanja mereka kepada mereka kepada kerabatnya sebagai bentuk kepuasandan kenyamanan yang mereka peroleh.

Cerita ini hanyalah secuil dari kisah perbedaan pedagang dan pengusaha, pedagang yang taktis dan pengusaha yang strategis. Berapa banyak pun daftar perbedaan diantara keduanya, namun tetaplah itu hanya bagian-bagian kecil dari sebuah konsep yang selama ininsering diabaikan pedagang, yakni, pengelolaan usaha, dalam istilah ‘kerennya’, Manajemen usaha.

Seorang pedagang hanya berusaha dan berusaha, berusaha menjual barang semata, tetapi, seorang pengusaha, fokus pada bagaimana mengelola usahanya. Pengusaha memikirkan secara serius tentang Harga, tempat, produk(kemasan), promosi, untuk tujuan jangka panjang.

 

Dec 212014
 

2014-12-21_09.03.20Saat menjemput kakak ipar saya di terminal Medan Jaya, beliau bertanya, berapa harga nasi satu porsi di daerah saya kos? Saya katakan rata-rata 8.000 (Delapan ribu rupiah), karena memang harga sepiring nasi dengan ikan ada yang 7.000 dan 8.000. Sedangkan paki ayam dan ikan panggang biasanya 9.000.

Kakak saya kaget, di terminal juga dia beli nasi bungkus pakai ayam, hanya 9.000. Dia mengomel menggerutu, “kami di Bireuen ((Aceh), kalau jual sebungkus nasi 9.000 itu sama saja kasi gratis ke orang, mana ada untungnya? Kok bisa orang Medan jual harga segitu pake ayam? Kita pake ikan pun tak mungkin jual segitu”.

Saya juga menggerutu dalam hati, seperti halnya di Banda Aceh, harga nasi untuk sarapan pagi saja sudah di atas 10ribu, belum termasuk teh atau kopi. Makan siang rata-rata 12ribu pakai ikan, kalau pakai ayam, bisa mencapai 15-16ribu per porsi. Dua kali lipat harga di Medan. Harga lontong di Medan cuma 7ribu, di Banda Aceh 10ribu.

Apa sebabnya? Kita tahu, Banda Aceh dikelilingi oleh laut dari segala penjuru, TPI, tempat pendaratan ikan, ada di kota Banda Aceh, setiap hari ikan tumpah ruah disana, tapi coba anda belanja ikan di Banda Aceh, harganya lumayan tinggi. Begitu juga bahan dapur lainnya, harga sayur-sayuran, di Banda Aceh cukup tinggi dibanding Medan.

Anda percaya tidak? Kalau makan di angkringan yogya, Medan, satu potong mendowan harganya hanya 500, ya… Lima ratus rupiah, kalau beli gorengan di gerobak sorong, 2ribu dapat tiga potong, kalau di Banda Aceh 5ribu baru dapat tiga potong. Untuk jenis gorengan seperti itu, bahannya menggunakan sayuran. Memang Sumut punya Berastagi sebagai pemasok sayuran, tapi Aceh juga punya Takengon sebagai gudang sayuran.

Di Aceh, orang akan sinis jika disodorkan pecahan koin 500, bahkan anak saya mengatakan dia tidak bisa jajan karena koin 500 itu tak laku di kedai langganannya. Di Medan, koin 100 masih sangat dihargai.

Cerita di atas hanyalah sebagian kecil perbedaan wajah aktifitas ekonomi antara Aceh dan Medan. Ada memang yang berubah, yaitu harga mobil bekas. Dulu sebelum tsunami, harga kendaraan plat BL jatuh dihadapkan plat BK, tapi semenjak pengusaha mobil bekas Aceh membuka showroom di Banda Aceh, sudah banyak plat BL yang bisa ditampung dan di-reseller, alhasil, orang Aceh tidak perlu lagi melego mobilnya ke Medan, karena sudah bisa ditampung di Aceh, harga plat BL pun sudah bisa bersaing.

Sisi lain yang perlu kita sadari adalah, Aceh belum mampu menjadi daerah penghasil barang, dalam pandangan mikro, individu-individu atau kelompok usaha belum tumbuh sebagai penyangga ekonomi yang mestinya menjadi salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi. Gerigi sektor riil bergerak seperti mesin tanpa oli, dipaksa berputar, kelak pada gilirannya akan rusak dan rontok jika tidak cepat mendapat perhatian serius dari pemerintah. Sebaliknya, sektor financial tumbuh kembang tak seimbang, sehingga uang yang berputar hanya di awang-awang dan dinikmati hanya oleh pemilik modal. Lembaga keuangan bank dan non bank yang sangat diuntungkan dengan melejitnya sektor funancial ini.

Pertumbuhan ekonomi 2 digit? Rasanya mustahil tercapai, Indonesia berada di 5,1, bandingkan dengan pertumbuhan penduduk dan jumlah pengangguran. Tanpa dorongan dan kebijakan kuat terhadap sektor riil, tidak mungkin pertumbuhan ekonomi dipacu, dan pemerintah tahu persis hal itu. Oleh karena itu pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 6, prediksi 2014-2018,  itu bukan target, tapi seharusnya begitu untuk upaya maksimal menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan pengangguran. 🙂

Malaysia diprediksi tumbuh 5,7, karena ekspornya lebih tinggi. Kamboja, dengan ekspor produk garmennya, diperkirakan tumbuh hingga 7,2. Sedang Indonesia hanya 5,2, turun dari sebelumnya 5,8.

Baca juga:

 Posted by at 08:51
Dec 192014
 

kombisSecara teori, komunikasi harus memiliki paling tidak 5 (lima) unsur; sumber,  pesan, media, penerima, dan efek. Sumber atau komunikator adalah orang berfungsi sebagai pembawa atau penyampai pesan. Pesan merupakan sesuatu yang ingin disampaikan. Media menjadi alat untuk menyampaikan pesan tersebut. Penerima adalah orang yang akan menerima pesan yang disampaikan komunikator. Sedangkan efek atau pengaruh adalah berkaitan dengan perasaan si penerima pesan sebelum dan sesudah dia menerima pesan.

Dalam prakteknya, setiap orang berkomunikasi pasti telah memiliki semua unsur seperti disebutkan teori tersebut, karena dia merupakan unsur yang memang secara otomatis harus melekat untuk bisa melakukan komunikasi, baik disadari maupun yang tidak disadari.

Tetapi, sebaiknya kita menyadari satu hal yang sering membuat komunikasi gagal dilakukan. Dikatakan gagal karena tidak adanya pengaruh ataupun efek yang terjadi pada si penerima pesan. Kebanyakan orang menyampaikan informasi, bukan berkomunikasi. Dalam bisnis, komunikasi menekankan pada terjadinya perubahan sikap penerima pesan agar si penerima pesan melakukan susuatu seperti pesan yang disampaikan pengirim.

Iklan merupakan komunikasi bisnis yang dahsyat. Iklan bukan semata-mata menginformasikan keberadaan suatu produk, tapi memilah-milah dan secara perlahan memerangkap calon konsumen menjadi konsumen, dan mengikat konsumen menjadi pelanggan setia melalui perangkat psikologis AIDA; Attention, Interested, Desire, Action.

Attention adalah ruang terbuka bagi semua orang yang belum tersegmentasi. Produsen melalui iklan-iklan hanya memberitahukan bahwa mereka memiliki produk. Untuk produk baru, tentu yang diharapkan pertama adalah atensi, perhatian. Seperti orang yang mulai jatuh cinta kepada seorang gadis, tidak mungkin langsung ajak kencan, tetapi harus cari perhatian dulu agar si gadis tahu keberadaannya. Maka diciptakan pencitraan. Demikian juga produk, memperkenalkan diri kepada konsumen, hanya sekedar minta perhatian.

Jika produknya diiklankan terus-menerus setiap hari tanpa henti dalam durasi waktu yang telah ditentukan, tak bisa dipungkiri, sekali-kali kita tergerak juga untuk bertanya, “produk apa sih ini? pertanyaan kita ini menandakan kita sudah mulai perhatian, target jangka pendek produsen hanya ingin calon konsumen menanyakan itu. Dan kemudian produsen menjawab bahwa produk tersebut adalah barang/jasa yang anda butuhkan.

Jika konsumen merasa bahwa barang tersebut memang dia butuhkan, maka dia akan tertarik untuk melanjutkan mencari tahu lebih jauh tentang produk tersebut, iklan-iklan yang ditayangkan di media bahkan tak cukup lagi bagi calon konsumen  untuk mengenal lebih dekat produk tersebut, dia akan melakukan penelusuran di perusahaan tersebut melalui website atau media-media lain yang lebih detil membahas produk itu. Ini adalah perubahan perilaku calon konsumen yang sudah masuk dalam perangkap kedua, Interested, dia mulai tertarik, setidaknya tertarik untuk mencari tahu.

Informasi yang diperoleh dari hasil penelusuran tersebut akan menambah pengetahuan calon konsumen tentang produk yang ditawarkan. Calon konsumen hanya butuh waktu sebentar untuk memutuskan apakah produk tersebut ‘compatible’ dengan kepentingannya atau tidak, jika iya, maka berarti dia membutuhkan produk tersebut. Merasa membutuhkan sesuatu itu akan menimbulkan semangat baru dengan meningkatkan sedikit level perasaan ke dalam tingkat minat yang semakin rumit, Desire, setingkat di atas interested. Calon konsumen sudah mulai memiliki keinginan terhadap produk itu.

Keinginan adalah motor penggerak seseorang meningkatkan upaya mencari alat untuk memenuhinya. Inilah salah satu motivasi seseorang bekerja keras banting tulang siang dan malam, untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Saat alat pemenuhan kebutuhan dan keinginan sudah tersedia, kita sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih nyata, yaitu Action, aksi. Produknya kita beli.

Dalam bisnis, komunikasi itu dikatakan berhasil jika calon konsumen melakukan tindakan membeli produk yang kita tawarkan. Komunikasi Bisnis bukan sekedar menyampaikan informasi, tetapi menindaklanjuti setiap perubahan sikap calon konsumen untuk tetap berada dalam kamar-kamar perangkap, hingga calon konsumen merubah sikapnya dan memutuskan untuk menjadi konsumen. Tugas selanjutnya adalah menjaga konsumen untuk menjadikannya sebagai pelanggan. Selamat menjalin silaturrahim dengan konsumen…

Baca juga:

Ide Bisnis Datang Dari Persoalan Hidup

Dec 172014
 

2014-12-16_19.14.30Tiket Pesawat Murah, lebih murah dari pada tiket bus. Benarkah? Padahal biaya operasional pesawat tinggi, tapi kok bisa beroperasi dengan tarif tiket yang sangat murah meriah? Benar, bukan hanya murah, bahkan ada penerbangan yang memberikan tiket gratis untuk waktu dan tujuan tertentu. Dari Medan – Kuala Lumpur cukup anda bayar 199.000, ya, Seratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu Rupiah. Angka yang sangat fantastis untuk tarif pesawat dengan tujuan luar negeri.

Perusahaan-perusahaan modern saat ini bersaing ketat mendekatkan diri di sisi konsumen. Berbagai upaya dilakukan untuk memberikan pelayanan yang menyenangkan dan harga yang terjangkau. Intinya, mereka berlomba menerbangkan masyarakat dari seluruh lapisan. Ini semua mereka deskripsikan pada tagline-tagline mereka; Your flying partner, We make people fly, Now eveyone can fly.

Bagaimana mereka menekan biaya? Tidak, mereka bukan menekan biaya, tapi memindahkan biaya dari produsen ke konsumen. Biaya yang selama ini menjadi beban perusahaan dipindahkan ke konsumen, konsumen yng menanggung semuanya, bukan lagi perusahaan, sehingga perusahaan bisa menurunkan harga tiket pada tingkat yang tidak masuk akal.

Lion memiliki lebih kurang 400-an armada, dan armada ini terbang setiap hari, setiap hari rata-rata tiga kali penerbangan. Jika kita asumsikan setiap pesawat berpenumpang 125 penumpang, maka total penumpang seluruhnya adalah 48.000 penumpang, jika setiap hari terbang tiga kali, berarti akan ada 144.000 kali terbang, kemudian masing masing pesawat terbang pulang-pergi, artinya, 144.000 x 2 = 288.000 kali terbang.

Karena variasi harga yang berbeda pada setiap rute, kita anggap saja rata-rata tarif tiket Rp. 500.000, ini angka rata-rata yang pesimis. Maka dengan 288.000 kali terbang x 500.000, diperoleh angka Rp. 144.000.000.000 (Seratus Empat Puluh Empat Milyar Rupiah). Fantastic, 144 milyar itu pemasukan satu hari, 1 bulan? Rp, 4,3 triliun. Setahun? Waaowww….

Oke… itu artinya, perusahaan harus menyediakan tiket untuk 288.000 eksemplar. Kira-kira berapa harga tiket per eksemplar? 3.000? 2.000? 1.000? Katakanlah Rp.500,- x 288.000 = 144.000.000. Berarti satu bulan Rp. 4.320.000.000. Dari sudut pandang pengeluaran, 4,3 milyar adalah besar, sementara perusahaan modern terus membenahi diri untuk bisa meningkatkan laba. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan prinsip efektifitas dan efisiensi.

Keberadaan teknologi informasi sangat memungkinkan memindahkan biaya dari produsen ke konsumen. Yaitu melalui penjualan tiket secara online.

Coba anda bayangkan lagi, saat anda memesan tiket pesawat, semua proses anda lakukan secara mandiri, memesan, booking, issue, hingga print out tiket, itu tidak gratis, anda harus online untuk bisa mengakses semua itu melalui jaringan internet. Anda harus mengeluarkan biaya rental warnet, atau isi pulsa jika menggunakan modem, atau anda harus berlangganan paket internet jika akses melalui smart phone dan gadget sejenisnya, saat anda print out tiket, itu juga tidak gratis, anda butuh kertas, tinta printer, ata ke rental. Semua berbayar.

Mestinya biaya tersebut dikeluarkan oleh perusahaan, tetapi, sekarang anda ‘mensubsidi perusahaan’ dengan rela. Sementara, perusahaan tidak lagi mencetak tiket untuk anda, mereka memperoleh marjin 4,3 milyar per bulan daripemindahan biaya cetak tiket kepada anda…  So, what… Jangan sewot. Lagi-lagi, inilah bedanya pedagang dan pengusaha… 🙂